Me Recently ; Awal 2017 ini …

Halo…gak terasa udah 2017. Saya tidak mengawali tahun baru ini dengan cukup baik. Kenapa? Karena Ghazi sakit. Lagi! Seperti biasa, Ghazi kalau sakit pasti gak jauh-jauh dari batuk-pilek dan ujung-ujungnya pasti demam. Kali ini demamnya hampir 10 hari. Sebenarnya kalau Ghazi bisa mengeluarkan ingusnya masalah beres, tapi karena dia belum bisa, jadinya berlarut-larut. Akhirnya kami memutuskan untuk bawa ke dokter dan di sarankan untuk di nebul/uap agar dahak/ingusnya menjadi encer supaya mudah di keluarkan. Yaa..bisa dibayangkan, akhirnya Ghazi nangis-nangis gak tahan di uap. Tepat di hari selasa 3 januari lalu, keadaannya berangsur-angsur membaik. Sakit ini di sponsori juga oleh sariawan yang bahkan hingga hari ini belum sembuh. Doh!

Iya, sariawan ini yang menjadi penyebab Ghazi gak nafsu makan dan trauma sikat gigi. Setelah bye-bye dengan batuk-pilek, sekarang mau gak mau harus say hi dengan sariawan. Lagi-lagi Ghazi ‘gatel’ gak bisa tahan. Maunya digigit-gigit dan di garuk-garuk.Literally! Jadinya, saya dan suami hanya mengoleskan obat sariawan ketika Ghazi tidur. Doh! Doh! Continue reading

Mozaik

Ada masa dimana saya menjalani suatu episode kehidupan dengan percaya diri tanpa memikirkan akibatnya di depan, padahal orang-orang di sekitar saya sudah mencoba memperingatkan untuk lebih berhati-hati atau meninggalkannya jika ragu dan tidak mampu menahan segala resiko. Ketika sudah ‘kena’ akibatnya, bahkan saya belum mampu mencerna setiap hal-hal kecil yang telah terjadi. Kini ketika saya beranjak dewasa, sudah punya banyak pelajaran hidup yang saya ‘lahap’, perlahan saya mampu mengambil pelajaran dari kejadian dulu-dulu. Ada yang saya syukuri, ada yang saya ingin coba lupakan, sebagian ada yang masih terus saya usahakan dan sebagiannya lagi ada yang terus membuntuti hingga sampai saat ini saya masih punya rasa bersalah dan ingin sekali saya perbaiki. Tapi waktu hanyalah waktu. Bulan terus berlalu. Pergantian tahun juga tidak bisa di elakkan. But, most of all…Saya berterima kasih pada kehidupan yang telah memberi saya banyak pelajaran kehidupan yang tidak bisa dibeli sekalipun dengan uang. Saya bersyukur dipertemukan dengan orang-orang yang memberi banyak feedback positif. Saya juga teramat bersyukur dipertemukan dengan orang-orang di masa lalu, jika tanpa mereka saya tidak seperti sekarang. Setiap kejadian, hal-hal kecil, orang-orang, pedih, suka, senang, gelisah, mencintai, sakit hati dan semuanya…saya bisa belajar untuk memaafkan. Terutama memaafkan diri sendiri. Memaafkan segala kekurangan mereka karena saya pun juga tidak sempurna.

Saya tau waktu tidak bisa di ulang, sekalipun saya minta untuk mundur 0.000001 detik kebelakang. Allah sengaja merancang keadaan tidak bisa di ulang agar kita benar-benar memikirkan segala tindakan yang akan terjadi kedepan. Hingga saat ini pun, saya masih belajar menjadi selayaknya seorang hamba kepada Tuhannya, seorang anak, seorang istri untuk suami, menjadi ibu, seorang teman, seorang saudara-kerabat, seorang teman kerja, seorang yang bertemu orang lain random, seorang pengguna jasa layanan publik dan seorang untuk diri saya sendiri. See? Ternyata di kehidupan ini kita punya banyak sekali peran ya. Peran itu harus kita jalani sebaik mungkin menurut versi kita.

Terima kasih ya Allah, atas kehidupan saat ini yang saya jalani. Saya bersyukur di tahun ini saya punya waktu yang lebih banyak untuk diri sendiri. Saya tidak ingin mundur kebelakang. Apa yang terjadi di belakang biarlah menjadi potongan-potongan mozaik pelengkap kehidupan. Belajar, lupakan, bersyukur sebanyak-banyaknya…

Semoga tahun depan saya menjalani berbagai ‘peran’ dengan lebih baik lagi dan lebih optimis, aminn… 🙂