Sahabat vs Solitude

Screenshot_2017-02-24-11-11-34-1Saya gak bisa menggambarkan diri lebih banyak selain suka menyendiri. Solitude! Alone but not lonely. I love my self more than anyone, hahahaha…

Sampai di detik ini saya baru sadar bahwa ternyata saya gak punya sahabat karena sebenarnya saya hanya ingin berteman saja. Sahabat saya adalah saya sendiri. Sahabat saya adalah diary dengan setumpuk tulisan, sahabat saya adalah komputer plus koneksi internet, sahabat saya adalah pemikiran saya sendiri, dimana dengan kehadiran ‘mereka’ saya cukup terhibur dan menjadi diri sendiri. Sempat saya tanya sama diri sendiri, normal kah hidup seperti ini? Karena bukan hanya di lingkungan sosial dan pertemanan saja, di rumah pun, saya suka menyendiri dan betah lama-lama di kamar. Saya gak suka nonton sinetron dan gak begitu suka ngumpul bareng ibu-ibu komplek. Mungkin saya seperti ini karena pressure dari orang tua dan masih tinggal dengan mereka juga kali ya. I don’t know, I have no idea. Dan, di kantor, saya dibilang sombong hanya karena gak pernah ikutan ibu-ibu gosip di pojokan *gagalpaham!

Continue reading

Me-time, Perlukah?

Beberapa hari yang lalu, saya sempet bilang di instagram seperti ini ;

Apa ada yang salah dengan me-time? Jangan pernah berpikir bahwa ketika kita butuh waktu untuk menyenangkan diri sendiri itu egois. Kalau kita takut di bilang ibu egois karena ingin jalan-jalan sendiri, kita gak akan pernah bahagia. Me-time nya gak harus jalan-jalan dan belanja, bisa juga dengan baca buku, hangout hanya dengan suami, baca quran, dandan, berdua-duaan dengan Allah, masak, nonton, olahraga, dll. Cherish your me-time in your own way…you’ll feel happy. Happy mother, happy family…

Sekarang pertanyaannya gini, kita butuh gak sih me-time? Butuh gak sih waktu untuk diri sendiri? Jawabannya yaa…butuh gak butuh. Kalau masih single, belum berkeluarga, waktu sepenuhnya untuk diri sendiri. Beda ceritanya kalau sudah menikah dan punya anak. Me-time itu jadi kebutuhan.

Saya pernah stres. Setelah punya anak, rasa lelah saya makin bertambah-tambah. Sebagai ibu baru yang belum punya pengalaman apa-apa, i felt clueless. Ditambah lagi saya juga gak punya tempat untuk bertanya. Walau saya masih tinggal bersama orangtua, kebanyakan pendapat mereka tidak sesuai dengan perkembangan zaman sekarang. Saya hanya menurutinya karena merasa tidak enak dan untuk menghargai orangtua. Saya merasa tidak bahagia pada saat itu. Waktu tidur yang otomatis berkurang, membuat saya selalu tidak fresh ketika bangun pagi. Kadang saya makan ketika menidurkan anak, atau makan dengan porsi sedikit karena tidak sempat. Tulang belakang saya sering sakit. Saya selalu iri melihat orang lain yang bisa hangout dengan teman-temannya, sedang saya masih disini, bisa mandi aja sukur. Saya tidak tau entah berapa puluh malam yang saya habiskan untuk menangis sendiri atau menangis di hadapan suami. Saya selalu mengatakan saya stress. Ya, saya pernah berada di titik itu. Continue reading

Do!

Terasa sekali setelah menikah semua berubah. Apa yang saya lihat, saya rasakan, bagaimana saya memandang konflik, motivasi dalam segala hal juga ikut berubah. Laki-laki yang menikahi saya dibesarkan oleh keluarga sederhana, begitu juga dengan saya. Sometimes kami berbeda pendapat dalam banyak hal, tapi ternyata banyak juga kesamaannya. Saya tidak memungkiri bahwa ada beberapa hal yang ingin saya ubah dari dirinya. Bukan karena saya lebih baik dari dirinya. Bukan. Sama sekali bukan seperti itu. Saya ingin anak belajar dari orangtuanya. Jika orangtuanya beda perkataan dengan sifat yang ditampilkan, anak akan bingung harus mencontoh seperti apa. Kok Umi dan Abi nya bilang tidak boleh membuang sampah sembarangan, tapi dia melihat kami membuang botol aqua di jalan!

picsart_01-27-01-11-35

once upon a time in airport

Menjadi contoh untuk anak saja butuh konsisten apalagi untuk pasangan. Terasa sekali untuk ‘mengubah’ pasangan butuh lebih dari sekedar effort. Panas-panas tai ayam mah gak mempan. Sabar aja, diam aja gak akan mengubah keadaan. Apalagi ngomel-ngomel gak jelas. Saya ngerasain banget sih, cara yang paling baik membuat si dia menjadi lebih baik adalah dengan memberi contoh yang baik juga. Kalau anak-anak kan cepet tuh pahamnya, kita bilangin apa aja dia dengerin, dia tiru, tapi kalau orang dewasa rada ribet. Kenapa ribet? Ya karena dia udah dewasa, udah punya pemikiran tersendiri. Tapi beneran deh. Saya juga liat beberapa perubahan positif dari suami yang gak saya sadari. Frankly, saya juga gitu sih. Continue reading

Mozaik

Ada masa dimana saya menjalani suatu episode kehidupan dengan percaya diri tanpa memikirkan akibatnya di depan, padahal orang-orang di sekitar saya sudah mencoba memperingatkan untuk lebih berhati-hati atau meninggalkannya jika ragu dan tidak mampu menahan segala resiko. Ketika sudah ‘kena’ akibatnya, bahkan saya belum mampu mencerna setiap hal-hal kecil yang telah terjadi. Kini ketika saya beranjak dewasa, sudah punya banyak pelajaran hidup yang saya ‘lahap’, perlahan saya mampu mengambil pelajaran dari kejadian dulu-dulu. Ada yang saya syukuri, ada yang saya ingin coba lupakan, sebagian ada yang masih terus saya usahakan dan sebagiannya lagi ada yang terus membuntuti hingga sampai saat ini saya masih punya rasa bersalah dan ingin sekali saya perbaiki. Tapi waktu hanyalah waktu. Bulan terus berlalu. Pergantian tahun juga tidak bisa di elakkan. But, most of all…Saya berterima kasih pada kehidupan yang telah memberi saya banyak pelajaran kehidupan yang tidak bisa dibeli sekalipun dengan uang. Saya bersyukur dipertemukan dengan orang-orang yang memberi banyak feedback positif. Saya juga teramat bersyukur dipertemukan dengan orang-orang di masa lalu, jika tanpa mereka saya tidak seperti sekarang. Setiap kejadian, hal-hal kecil, orang-orang, pedih, suka, senang, gelisah, mencintai, sakit hati dan semuanya…saya bisa belajar untuk memaafkan. Terutama memaafkan diri sendiri. Memaafkan segala kekurangan mereka karena saya pun juga tidak sempurna.

Saya tau waktu tidak bisa di ulang, sekalipun saya minta untuk mundur 0.000001 detik kebelakang. Allah sengaja merancang keadaan tidak bisa di ulang agar kita benar-benar memikirkan segala tindakan yang akan terjadi kedepan. Hingga saat ini pun, saya masih belajar menjadi selayaknya seorang hamba kepada Tuhannya, seorang anak, seorang istri untuk suami, menjadi ibu, seorang teman, seorang saudara-kerabat, seorang teman kerja, seorang yang bertemu orang lain random, seorang pengguna jasa layanan publik dan seorang untuk diri saya sendiri. See? Ternyata di kehidupan ini kita punya banyak sekali peran ya. Peran itu harus kita jalani sebaik mungkin menurut versi kita.

Terima kasih ya Allah, atas kehidupan saat ini yang saya jalani. Saya bersyukur di tahun ini saya punya waktu yang lebih banyak untuk diri sendiri. Saya tidak ingin mundur kebelakang. Apa yang terjadi di belakang biarlah menjadi potongan-potongan mozaik pelengkap kehidupan. Belajar, lupakan, bersyukur sebanyak-banyaknya…

Semoga tahun depan saya menjalani berbagai ‘peran’ dengan lebih baik lagi dan lebih optimis, aminn… 🙂

3 Tahun Lalu

Sembilan September tahun ini, usia pernikahan kami menjadi 3 tahun. Kata orang usia pernikahan yang ganjil-ganjil itu adalah masa-masa dimana pernikahan di uji. Menurut saya, setiap fase pernikahan pasti ada ujiannya. Mulai dari menikah itu sendiri, tahun pertama menikah yang butuh penyesuaian hingga punya anak. Jadi, salah besar ya, yang namanya pernikahan itu happy-happy terus, hehe…dan gak sedih-sedih melulu kok, malah banyakan enaknya. Alhamdulillah 🙂

Continue reading

Emosi

InsideOutQuotes_1Sudah nonton animasi pixar terbaru, Inside Out? Kalau belum, saya rekomendasikan untuk di tonton. Ini salah satu animasi yang saya suka selain Wall-E. Ceritanya tentang keseharian seorang ‘makhluk’ bernama Joy dalam diri seorang anak perempuan, Riley. Seperti namanya, Joy mengatur semua kesenangan dan kebahagiaan Riley. Joy tidak sendiri, dia bersama teman-temannya, Fear, Disgust, Angry dan Sadness. Masing-masing teman Joy mengatur ketakutan, rasa jijik, amarah, kesedihan, persis seperti nama mereka. Hari-hari Riley diatur oleh ‘makhluk’ tersebut hingga Riley bahagia dan melupakan kesedihan. Yup, mereka tidak membiarkan kesedihan ikut campur dalam menentukan mood Riley. Setiap hal yang Riley senangi akan tersimpan dalam memori inti jangka panjang dan membentuk satu ‘pulau’ tentang rasa tersebut. Riley berhasil membentuk rasa persahabatan, kekonyolan, kejujuran pulau hockey dan keluarga. Hingga suatu ketika semuanya berubah ketika Riley dan keluarganya pindah ke San Fransisco. Riley tidak begitu bahagia ketika mendapati rumah, kamar tidur, teman-teman dan sekolah tidak seperti harapannya. Hingga satu persatu ‘pulau’ yang dibentuk dari memori inti jangka panjangnya rubuh. Joy dan teman-teman tidak berdiam diri, segala usaha ia lakukan untuk membuat Riley kembali tersenyum dan bahagia, namun usaha mereka gagal karena Joy sudah dihapus dari memori Riley. Riley melupakan bagaimana cara tersenyum, bagaimana indahnya sebuah keluarga, persahabatan dan kekonyolan. Riley melupakan arti bahagia. Lalu, sia-siakah usaha Joy? Apakah Riley tidak lagi bahagia selamanya?

Continue reading

Sejenak Saja

Dulu saya pernah disuruh mengisi kajian untuk anak-anak. Usia mereka kisaran, hmm…usia anak SD lah. Waktu itu materi-nya tentang ibu. Kenapa tentang ibu? Saya juga lupa, entah karena bertepatan hari ibu atau memang sudah agendanya seperti itu. Saja juga bingung harus menyampaikan materi ibu seperti apa. Mulailah saya mengarang indah. Ibu itu begini dan begitu, ibu itu melahirkan kita, jadi kita harus patuh dengannya, bla..bla..bla..

mother-and-sonSetengah jam berdongeng ria, sampai tiba saat saya menyuruh mereka mengambil selembar kertas dan menuliskan tentang ibu. Mereka bingung. Nulis apa? Saya bingung. Nulis apa ya? Akhirnya saya menyuruh mereka nulis tentang ibu itu seperti apa. Namanya juga anak-anak, mereka nulis kalau ibu suka masak, makanannya enak, cerewet, suka bersih-bersih dan..itu saja. Iya itu saja. Selebihnya mereka buntu dan minta segera pulang. Mau main katanya. Karena masih ada waktu setengah jam lagi mengisi kajian, saya putar otak, gimana kalau nulis tentang ayah. Seketika wajah mereka sumringah. Ayah itu main, main dan main. Kalau ibu marah-marah dan bawel, ada ayah. Kalau ibu nyuruh mandi, tinggal merengek pada ayah. Ibu nyuruh tidur, enakan tidur sama ayah. Saya bingung. Kenapa ketika mendefinisikan ayah lebih cepat dari pada ibu? Bukankah seharusnya ibu orang yang paling dekat dengan kita? Lalu kemudian saya balik bertanya pada diri sendiri, waktu mengisi kajian tentang ibu kenapa saya perlu berpikir lama dan bingung mau kasih materi seperti apa? Padahal harusnya kalau seorang ibu itu mudah di definisikan, saya gak perlu berdongeng ria dong..nah lohh?

Continue reading