[Latepost] Staycation at The Pade Hotel

Screenshot_2017-08-13-20-25-17“Nginep di hotel yuk!” Tiba-tiba suami bikin kaget saya pagi-pagi.

“Ha?? Tumben…emang ada duit?” Saya bertanya balik.

“Yaa…ada, masih ada sisa bonus kerjaan yang di Sabang 2 bulan lalu” Jawabnya.

“Oke deh, yuk…kapan? Saya excited.

“Sabtu ini” Ternyata suami lebih excited.

“Serius? Ya udah…cus booking!”

Continue reading

Advertisements

Takengon!

20170805_080130

satu-satunya kenang-kenangan di Takengon. Foto Danau Lut Tawar saya jepret dari kaca hotel tempat saya menginap.

Walaupun ke Takengonnya cuma 1 setengah hari dan sempet nginap hanya-dan-hanya 1 malam saja, saya tetap happy kok. Karena Kota Takengon adalah salah satu kota di Aceh yang ingin saya kunjungi, selain Sabang. Empat Agustus 2017 lalu, atas nama SPT (Surat Perintah Tugas) dari kantor, saya dan teman-teman bidang pergi ke Negeri di Atas Awan ini.

Selain Sabang dan Takengon, saya masih ingin pergi ke beberapa daerah di Aceh seperti, Aceh Barat dan Aceh Selatan. Jika di Indonesia, saya ingin ke Bali, Bandung, Yogya, Papua dan…Jakarta. Kenapa Jakarta? Karena saya belum pernah naik pesawat, hahaha…gak nyambung ya alasannya. Biarlah!

Jika Allah mengizinkan, saya juga ingin ke Jepang, Turki, Swiss serta beberapa negara yang lain di Eropa. Bagaimana dengan Mekkah dan Madinah? Tentu saja. Untuk saya, Mekkah dan Madinah itu harus, bukan keinginan. Itu azzam, ibadah rukun ke-5. Naik haji itu harus! Harus punya tekad yang besar, harus punya fisik yang kuat dan tentu saja finansial.

Semoga Allah memberikan saya kesempatan pergi ke tempat-tempat yang saya targetkan sebelum ajal menjemput.

Aminn…

Sahabat vs Solitude

Screenshot_2017-02-24-11-11-34-1Saya gak bisa menggambarkan diri lebih banyak selain suka menyendiri. Solitude! Alone but not lonely. I love my self more than anyone, hahahaha…

Sampai di detik ini saya baru sadar bahwa ternyata saya gak punya sahabat karena sebenarnya saya hanya ingin berteman saja. Sahabat saya adalah saya sendiri. Sahabat saya adalah diary dengan setumpuk tulisan, sahabat saya adalah komputer plus koneksi internet, sahabat saya adalah pemikiran saya sendiri, dimana dengan kehadiran ‘mereka’ saya cukup terhibur dan menjadi diri sendiri. Sempat saya tanya sama diri sendiri, normal kah hidup seperti ini? Karena bukan hanya di lingkungan sosial dan pertemanan saja, di rumah pun, saya suka menyendiri dan betah lama-lama di kamar. Saya gak suka nonton sinetron dan gak begitu suka ngumpul bareng ibu-ibu komplek. Mungkin saya seperti ini karena pressure dari orang tua dan masih tinggal dengan mereka juga kali ya. I don’t know, I have no idea. Dan, di kantor, saya dibilang sombong hanya karena gak pernah ikutan ibu-ibu gosip di pojokan *gagalpaham!

Continue reading

Me Recently ; Gue Anaknya Art, Visual and Language Banget!

Haloo…halo…saya kangen banget pingin nulis disini lagi. Gak terasa Februari lalu saya gak nulis apa-apa ya, alasan klasik  sok sibuk 😀

Ghost Writer

Saya sama yuyun -teman satu angkatan di kuliahan, jadi ghost writer. Apa itu? Jadi, akhir bulan Januari lalu, saya dapat tawaran untuk project menulis buku biografi Pembantu Rektor I Universitas Syiah Kuala, yang tak lain adalah dosen kami sendiri. Sebenarnya project menulis buku biografi ini bukan yang pertama kali. Dulu waktu saya masih jadi mahasiswa, kami juga ditawari menulis buku biografi saat beliau menjadi dekan. Nah, berhubung sekarang beliau sudah jadi PR I, otomatis semua harus di upgrade dong. Dan, biografi ini juga dibuat sebagai salah satu persyaratan mendapatkan gelar profesor. Lho ngapain di tulis lagi? Kan masih bisa pakai buku biografi saat menjadi dekan? Yah, maunya beliau juga seperti itu tapi berhubung buku pertama belum ada International Standard Book Number (ISBN)-nya, jadi harus dibuat lagi dengan status yang berbeda tentunya, sebagai seorang Pembantu Rektor I. Begitulah!

Continue reading

Mozaik

Ada masa dimana saya menjalani suatu episode kehidupan dengan percaya diri tanpa memikirkan akibatnya di depan, padahal orang-orang di sekitar saya sudah mencoba memperingatkan untuk lebih berhati-hati atau meninggalkannya jika ragu dan tidak mampu menahan segala resiko. Ketika sudah ‘kena’ akibatnya, bahkan saya belum mampu mencerna setiap hal-hal kecil yang telah terjadi. Kini ketika saya beranjak dewasa, sudah punya banyak pelajaran hidup yang saya ‘lahap’, perlahan saya mampu mengambil pelajaran dari kejadian dulu-dulu. Ada yang saya syukuri, ada yang saya ingin coba lupakan, sebagian ada yang masih terus saya usahakan dan sebagiannya lagi ada yang terus membuntuti hingga sampai saat ini saya masih punya rasa bersalah dan ingin sekali saya perbaiki. Tapi waktu hanyalah waktu. Bulan terus berlalu. Pergantian tahun juga tidak bisa di elakkan. But, most of all…Saya berterima kasih pada kehidupan yang telah memberi saya banyak pelajaran kehidupan yang tidak bisa dibeli sekalipun dengan uang. Saya bersyukur dipertemukan dengan orang-orang yang memberi banyak feedback positif. Saya juga teramat bersyukur dipertemukan dengan orang-orang di masa lalu, jika tanpa mereka saya tidak seperti sekarang. Setiap kejadian, hal-hal kecil, orang-orang, pedih, suka, senang, gelisah, mencintai, sakit hati dan semuanya…saya bisa belajar untuk memaafkan. Terutama memaafkan diri sendiri. Memaafkan segala kekurangan mereka karena saya pun juga tidak sempurna.

Saya tau waktu tidak bisa di ulang, sekalipun saya minta untuk mundur 0.000001 detik kebelakang. Allah sengaja merancang keadaan tidak bisa di ulang agar kita benar-benar memikirkan segala tindakan yang akan terjadi kedepan. Hingga saat ini pun, saya masih belajar menjadi selayaknya seorang hamba kepada Tuhannya, seorang anak, seorang istri untuk suami, menjadi ibu, seorang teman, seorang saudara-kerabat, seorang teman kerja, seorang yang bertemu orang lain random, seorang pengguna jasa layanan publik dan seorang untuk diri saya sendiri. See? Ternyata di kehidupan ini kita punya banyak sekali peran ya. Peran itu harus kita jalani sebaik mungkin menurut versi kita.

Terima kasih ya Allah, atas kehidupan saat ini yang saya jalani. Saya bersyukur di tahun ini saya punya waktu yang lebih banyak untuk diri sendiri. Saya tidak ingin mundur kebelakang. Apa yang terjadi di belakang biarlah menjadi potongan-potongan mozaik pelengkap kehidupan. Belajar, lupakan, bersyukur sebanyak-banyaknya…

Semoga tahun depan saya menjalani berbagai ‘peran’ dengan lebih baik lagi dan lebih optimis, aminn… 🙂

Me Recently ; Terulang lagi!

Mei lalu saya sempet cerita gimana struggle nya saya karena harus bekerja di saat badan drop karena flu dan desember ini flu kembali menyerang. So, this is twice in a year. Tapi saya gak mau mengulang hal yang sama seperti 7 bulan yang lalu, saya harus sehat dan minum obat teratur. Karena ini akhir tahun, kerjaan lagi banyak-banyaknya dan acara keluarga juga berjibun. Belum lagi saya harus mengurus anak dan suami, ngurus rumah, dll. Rasanya kalau sudah drop seperti ini jadi tau betapa pentingnya nikmat sehat dan kalau sudah begini jadi terasaaa sekali sehat itu harganya mahal. Semoga kita diberi kesehatan selalu ya, aminn..

*Jleb!

Di channelnya female daily yang ini, ka affi udah jelasin bahwa gak ada satu produk andalan yang bener-benar bisa menghilangkan komedo. Totally! It’s a combination of a good skincare routine plus menggunakan beberapa produk yang memang dipercaya untuk membantu menghilangkan/mengurangi tampilan komedo. And you have to stick on it untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Terus ya, memang sebenarnya kita gak bisa sih mengharapkan kulit yang muluuusssss banget seperti porcelain, unless you’re 8 years old, hehehe…

Jadi saya bisa ambil kesimpulan bahwa, sekomplit apapun skin concern kita, sekomplit apapun masalah kulit kita, gak akan pernah mendapatkan hasil yang diinginkan kalo kita gak menerapkan skincare routine dan produk yang tepat tentu saja. Wah PR banget ni! Simplenya gini deh, sia-sia kamu pake SK-II yang mahal itu kalo ngebersihin wajah aja belum rutin. *jleb