Drama – Sabang Part 6

sff

Sunrise di Pantai Sumur Tiga

Sunset di Casa Nemo sore kemarin yang saya rasakan tidak seindah sunrise hari itu. Saya benar-benar melihat matahari terbit perlahan di atas balkon kami. Seperti biasa saya bangun pagi-pagi sekali sekitar pukul 5 lewat. Bukan karena bunyi alarm, melainkan karen bunyi serangga yang mengetuk-ngetuk pintu kami. Awalnya saya kira bunyi petugas kebersihan yang sedang menyapu pagi hari tapi eh ternyata serangga seukuran jari telunjuk masuk ke kamar kami 2 ekor, plus satu walang sangit. I feel like sleep in the middle of jungle, hehehe…

Syahdu sekali ya menikmati sunrise dengan orang yang dicintai, sambil menyeruput teh hangat dan bercengkrama ringan. Saya sudah melupakan 0 Km karena memang tidak memungkinkan sampai disana tepat waktu sebelum jam 8 pagi kapal lambat tiba. Kami berencana pulang dengan kapal lambat yang pertama, tapi hingga pukul 7.30 pun kami belum siap-siap dan belum sarapan. Karena Ghazi sudah bangun, kami bergantian makan pagi. Suami makan duluan dan saya mengurus packing barang serta memandikan Ghazi. Setelah lama menunggu suami yang tak kunjung selesai makan, saya mengajak Ghazi untuk ikut sarapan dan lagi-lagi nafsu makan Ghazi mulai gak karuan.

mm

Sarapan pagi di Casa Nemo

20170724_062104

Sunrise Cekrek!

Tiba-tiba, entah bagaimana Ghazi terjatuh dari tangga yang terbuat dari bebatuan. Padahal kami cukup mengawasinya. Beberapa tamu bule yang ikut makan pagi bersama kami juga menyeru ”its falling down”. Saya buru-buru menghabiskan makan. Ghazi sudah dibawa kembali ke kamar oleh pak suami. Saya melihat keadaan Ghazi yang moodnya sudah gak karuan sekali. Suami saya pun begitu. Sampai dia berkata “Kita nginap sehari lagi di Sabang, karena gak akan terkejar lagi kapal lambat jam 2. Ini saja sudah pukul 10. Kita cari penginapan murah yang dekat balohan”.

Saya diam saja dan mengiyakan. Setelah check out dan mengambil beberapa foto selama di perjalanan, kami singgah ke Pelabuhan Balohan Sabang melihat sikon disana. Ternyata belum banyak kendaraan antri. Hanya 1 mobil. Ya, benar-benar hanya 1 mobil dan mobil kami. Melihat hanya ada 1 antrian mobil, suami saya langsung bersemangat kembali untuk bisa pulang hari itu. Kebetulan hari itu senin, jadi mungkin tidak banyak kendaraan yang keluar-masuk Sabang dan kami terbilang sangat beruntung. Kami pun membatalkan rencana untuk menginap sehari lagi di Sabang.

Kami tiba di balohan pukul 10.30 dan kapal akan tiba jam 1 siang, dan berangkat jam 2. Kami membeli oleh-oleh titipan ortu. Yah, seperti biasa, kueh kacang dan salak Sabang. Kami ngobrol-ngobrol dengan penjual jual salak bahwa lama sekali menunggu hingga pukul 1 dan kami belum sempat pergi ke 0 Km. Si penjual salak dengan mata berbinar langsung menawarkan pada kami untuk menyewa motor, kebetulan si empunya motor adalah adiknya. Saya bertanya berapa lama jarak dari Pelabuhan Balohan ke 0 Km. Ia menjawab hanya setengah jam saja.

Awalnya saya tidak menaruh curiga sama sekali akan ditipu mentah-mentah. Jika kalian ingin tahu, sebenarnya jarak dari Balohan ke 0 Km hampir 2 jam perjalanan, ditambah lagi kami belum pernah kesana sama sekali dan tidak tau medan jalan akan sangat terjal, karena benar-benar menaiki gunung dan berliku. Suami saya sempat berpikir, apa benar hanya setengah jam saja? Karena berdasarkan dari google map yang kami lihat, jarak tempuhnya sangat jauh. Suami saya (mungkin dengan berat hati) menerima saja tawaran sewa motor dari penjual salak karena melihat saya kegirangan sekali ingin ke 0 Km.

Setelah kami memarkir mobil untuk dapat antrian kendaraan, kami mengambil beberapa perbekalan seperti air mineral, topi, kaca mata, popok dan sedikit cemilan. Motor yang kami sewa belum jalan, Ghazi sudah mulai kelihatan bad mood lagi, dia menangis. Tidak mau di pakaikan topi ataupun kaca mata. Padahal cuaca Sabang panasnya jangan ditanya. Sebelum kami menuju 0 Km, suami saya harus beli kuota dulu. Sebagian daerah Sabang koneksi internetnya hanya bisa di akses dengan menggunakan Telkomsel. Saya sejak awal sampai di Sabang tidak menggunakan kuota internet Telkomsel. Bukan tidak mau ganti sih, tapi harga kuota internet di Sabang tergolong mahal. Saya hanya mengandalkan Wi-Fi gratis dari penginapan.

Setelah berputar-putar selama setengah jam dan tidak ketemu kuota yang diinginkan, kami berhenti sebentar di sebuah meunasah. Sepertinya suami saya membeli paket internet dari pulsanya atau apalah itu saya juga tidak tau. Fokus utama saya saat itu adalah Ghazi yang terus menangis. Mungkin karena kepanasan atau lapar. Saya juga tidak tahu. Serba salah. Digendong tidak mau, di kasih air dan makan menolak, menonton dari youtube offline juga tidak mood. Satu-satunya hal yang bisa saya lakukan adalah menggendongnya sambil terus menenangkannya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang. Kami harus tiba kembali di Pelabuhan Balohan maksimal pukul 1 siang. Artinya kami hanya punya waktu 1 jam untuk sampai ke 0 Km dan 1 jam lagi pulang dari 0 Km. Suami saya memacu motor dan saya ditugaskan untuk memberi arah jalan, lagi-lagi dengan bantuan google maps. Beberapa kali saya salah memberi arahan dan suami saya harus putar ulang lagi. Entahlah. Mungkin saya panik. Karena waktu tidak banyak, sedang rute ke balohan benar-benar jauh. Memang benar ya, kalau sudah merasakan langsung jalan ke tempat tujuan baru terasa perjalanan ke 0 Km memang tidak akan cukup jika waktu tempuh hanya tersisa 1 jam.

Dan, ternyata penyebab Ghazi rewel adalah ngantuk saudara-saudara. Iya, selama perjalanan kami menuju 0 Km Ghazi tertidur. Ghazi yang semula minta berdiri di depan, saat itu juga saya paksa untuk duduk di belakang bersama saya. Terbayang dong ya, gimana hecticnya suami mengejar 1 jam sisa perjalanan menuju 0 Km, saya yang harus fokus untuk lihat google map sambil pegang Ghazi yang ketiduran. Motor matic sewaan kami berlari dengan sangat kencang. Oh ya, sebelumnya kami juga harus mengisi bensin untuk motor sewaan ini. Well, lengkap sudah drama kami!

bhy

Ghazi ngantuk!

Belum setengah perjalanan, waktu sudah menunjukkan hampir pukul 12 siang yang artinya perjalanan untuk sampai ke 0 Km adalah tidak mungkin kecuali kami harus mau ketinggalan kapal dan menginap sehari lagi di Sabang. Sesaat di jalan saya berkata pada suami bahwa semua tergantung keputusannya. Saya tidak akan memaksanya lagi ke 0 Km. Saya juga tau diri bahwa kalaupun dipaksa untuk sampai  kesana mungkin bisa saja, tapi nanti keadaannya akan lain. Akan banyak hal diluar kendali kami jika kami benar-benar ketinggalan kapal karena ini diluar dari rencana dan prediksi kami.

Akhirnya suami saya memutuskan untuk putar balik ke balohan. Satu jam tersisa harus dikebut. Saya pun sudah melupakan niat ke 0 Km. Sudah sampai ke Sabang saja bersyukur sekali. Mungkin nanti kapan-kapan jika suatu saat saya kembali ke Sabang, yang entah kapan itu, saya pasti akan ke 0 Km.

So…say bye-bye to 0 Km 😦

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s