Casa Nemo – Sabang Part 5

cs

Casa Nemo Spa & Resort front view

Ternyata Casa Nemo cukup jauh dari Nagoya Inn. Setelah tiba di Casa Nemo (bahkan terlalu awal sampai disana) kamar yang kami booking masih ada tamu. Akhirnya kami jalan-jalan dulu mencari makan siang dan shalat dhuhur. Memang benar ya, Sabang itu di sepanjang jalannya adalah laut. Segar sekali mata memandang meski cuaca hari kedua kami di Sabang sangat panas.

Tiba kembali ke Casa Nemo dan kami check in. Saya masih belum merasakan eksotisnya Casa Nemo hingga saat di antar menuju kamar kami. Wah..sepanjang mata memandang penuh dengan tanaman, view langsung menghadap Pantai Sumur Tiga dan ternyata lelah sekali menaiki anak tangga yang banyak. Saya sampai ngos-ngosan Apalagi kami sampai ke Casa Nemo pukul 2 siang yang sedang terik-teriknya.

cc

Bungalows tempat kami menginap

Kamar di Casa Nemo, hmm…biasa saja. Di kamar seharga 550 ribu ini kami mendapatkan 1 bed ukuran besar, 1 single bed ukuran sedang, standing fan 2 buah, kulkas, dispenser air hangat-sedang, kamar mandi buthtub air panas-dingin dan lemari yang bentukannya tidak seperti lemari. Namun, keindahan kamar ini terletak di balkonnya yang menyediakan hammock dan view langsung menghadap laut.

Siang itu setelah makan, kami tidak melanjutkan perjalanan kemana-mana karena Ghazi moodnya tiba-tiba berubah. Mungkin karena panas dan tidak ada TV.

Kipas angin yang tersedia tidak membantu sama sekali. Tidak terasa sudah sore hari. Sebenarnya saya mengajak suami untuk ke 0 Km tapi setelah melihat di google map dan jaraknya dari Casa Nemo hampir 21 km, kami sedikit mengurungkan niat dan memilih untuk menikmati sunset di Pantai Sumur Tiga yang hanya beberapa langkah saja dari tempat kami menginap. Tapi lagi-lagi kami mengurungkan niat ke pantai karena tiba-tiba saja Ghazi tertidur di sofa balkon kamar kami. Suami saya juga terlihat lelah setelah seharian survey, dia memilih ikut tidur bersama Ghazi.

Saya sendiri tidak mengantuk dan memanfaatkan kesempatan untuk hunting foto and vlogging of course. Casa Nemo adalah tempat yang tepat untuk foto-foto karena di setiap sudutnya penuh dengan tumbuhan hijau, pepohonan juga bunga-bunga dan tentu saja laut. Menikmati sunset sendirian di tepi pantai sungguh kesempatan dan pemandangan yang langka. Me-time memang selalu menyenangkan.

ff

yy

frgr

Saya sampai di kamar sudah hampir menjelang magrib dan Ghazi terbangun dari tidurnya. Dia nangis terus, karena kepanasan dan juga lapar. Dari tadi siang dia tidak mood makan. Setelah shalat magrib, kami bersiap-siap untuk cari makan diluar. Kali ini kami mau wisata kulineran. Makan mie kocok jalak atau mie jalak. Anehnya warga Sabang asli tidak terlalu familiar dengan sebutan mie jalak ini. Jadi, ketika kami bertanya pada beberapa orang, kami hanya menyebutkan mie kocok saja tanpa embel-embel ‘jalak’. Untuk Ghazi yang masih rewel, kami belikan nasi uduk, lengkap dengan telur dadar dan ayam crispy. Kami tidak terlalu menikmati mie jalak. Selain karena Ghazi yang rewel, juga rasanya yang sebenarnya biasa saja, hehe…

g

Mie Jalak yang rasanya biasa sajahh 😀

Setelah makan, kami kembali ke Casa Nemo pukul 10 malam. Alhamdulillah Ghazi sudah mau makan, walau tidak banyak. Kami duduk-duduk di balkon sebentar sembari tiduran di hammock, bercengkrama tentang sehari di Casa Nemo yang sudah kami lewati. Saya juga membahas tentang keinginan ke 0 Km. Suami saya berkata tidak memungkinkan pergi kesana karena esoknya kami harus pulang dan mengejar kapal lambat lagi. Bekerja ekstra lagi seperti sebelum berangkat ke Sabang. Bisa sih pergi ke 0 Km, tapi harus bangun pagi-pagi sekali. Maximal jam 6 subuh sudah harus berangkat sekaligus check out dari Casa Nemo. Waktu tempuh yang kurang lebih hampir 2 jam ke 0 Km membuat suami saya berkata, 0 Km ini seperti jarak dari Banda Aceh ke samahani. Wah!

Saya ciut juga. Tidak pernah ke 0 Km sebelumnya, tidak tau medan jalan dan harus buru-buru packing sambil mengejar kapal lambat rasanya sungguh tidak memungkinkan. Malam itu saya tidur dengan keinginan yang masih terpendam. Sudah jauh-jauh ke Sabang, masak sih belum  ke 0 Km yang hanya ada 2 di Indonesia bahkan mungkin di dunia. Saya berharap ada kemudahan dan keajaiban. Ternyata dibalik ketidaktahuan kami, Allah menyiapkan drama yang membuat kami hampir frustasi di hari kami meninggalkan Sabang. Drama yang kami tidak sangka-sangka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s