Alhamdulillah – Sabang Part 7-end

uu

Bye Sabang…

Kami beristirahat sejenak. Lelah sekali kebut-kebutan dijalan yang panas dengan membawa pulang mood yang tidak karuan dan membawa anak kecil yang sedang tertidur. Kami berhenti untuk makan buah potong. Saya, suami dan Ghazi duduk di kursi sebuah toko. Menepi sebentar sekedar untuk cari angin. Pelan-pelan saya ingat penjual salak yang mengatakan hanya setengah jam saja sampai ke 0 Km dari balohan. Kenapa si penjual salak itu harus berbohong! Nyatanya kami harus menempuh 2 jam lebih perjalanan pulang-pergi, itupun tidak sampai ke 0 Km. Sungguh jahat sekali! Sudah kami panas-panasan di jalan, Ghazi rewel hingga tertidur, kami juga sudah isi bensin, rasanya saya tidak rela. Lalu suami saya mengatakan, yah namanya juga penjual, akan berbuat apa saja agar dapat untung. Yaa…benar juga sih. Tapi kok saya gak rela ya? sudah beli salak sama dia eh tau-taunya di gituin. Sebel banget kan! Untung salaknya manis.

Kami melanjutkan perjalanan karena waktu sudah hampir menunjukkan pukul 1 siang. Awalnya saya sempat menawarkan suami untuk shalat dhuhur di salah satu masjid yang kami lewati tapi katanya mepet sekali dan ia berkata untuk shalat di kapal saja. Saya mengiyakan. Nurut aja apa kata suami. Benar saja, sesaat kami sampai di balohan, kapal sudah sampai. Semua kendaraan sudah bersiap-siap masuk ke kapal. Suami saya baru teringat belum membeli tiket, sedang kendaraan sudah dipersilahkan masuk ke kapal. Alamak…drama apalagi ini!

Saya tidak tau betapa paniknya saya ketika hampir semua kendaraan sudah berderet-deret masuk ke kapal dan hanya mobil kami saja yang belum masuk. Semua petugas bahkan polisi sudah menyuruh kami masuk. Bayangan tidak jadi pulang ke Banda Aceh menari-nari di pikiran saya. Ya Allah, rasanya tidak henti-hentinya Allah memberi kami drama ini!

Tiket sudah di genggaman, suami saya buru-buru menghidupkan mobil dan kami berhasil masuk dalam kapal. Alhamdulillah. Jadi juga kami pulang ke Banda Aceh. Saya tak henti-hentinya mengucap syukur. Setelah petugas menyusun parkiran kendaraan di dalam kapal, kapal pun berangkat tepat pukul 2 siang. Aneh ya, dimana-mana perjalanan pulang selalu lebih cepat dari pada pergi. Atau memang karena hari itu hari senin, jadi mungkin tidak terlalu banyak kendaraan keluar-masuk pelabuhan? No idea.

Jujur, saya tidak nafsu makan selama di kapal. Entah karena mood saya dan suami belum stabil, ditambah Ghazi yang kelelahan dan tidurya yang tidak cukup. Rasanya saya ingin cepat-cepat sampai ke Banda Aceh. Suami saya menawarkan mie yang ia beli di kapal. Katanya, rasanya memang tidak enak tapi demi mengganjal perut, ya tetap harus makan siang.

Saya dan suami sempat tidur-tidur ayam selama di kapal. Ghazi minta jalan-jalan lagi selama di kapal dan saya menurutinya. Kemudian ia lebih tenang setelah melihat laut. Laut hari itu cukup bergelombang. Mungkin karena angin lagi kuat.

hyt

Antrian kendaraan di dalam kapal lambat

Perut saya mulai kelaparan. Saya ingat bahwa saya membawa sisa nasi uduk yang kami beli untuk Ghazi makan tadi malam. Tanpa tedeng aling saya makan saja dengan lahapnya, padahal saya tau nasi tersebut sebenarnya sudah tidak layak di konsumsi karena mungkin sudah basi. Tapi saya makan saja karena saya malas beli lagi makanan di kapal, pun saya sudah lapar sekali.

Kapal mendarat di pelabuhan Ulee Lheu pukul 15.30. Alhamdulillah…kami kembali mengucap syukur atas rahmat Allah yang tiada tara. Saya tidak tau apa yang terjadi, tiba-tiba saja mood kami kembali baik. Ghazi juga. Saya minta pada suami untuk singgah sebentar beli KFC agar Ghazi mau makan dan benar saja ia makan dengan sangat lahap sekali dan kembali ceria. Kami bertiga tertawa-tawa di mobil melihat tingkah Ghazi yang beda sekali 180 derajat dari perjalanan kami di kapal tadi. Sungguh Allah dengan mudahnya membolak-balikkan hati dan perasaan manusia yaa..

Saya benar-benar bersyukur atas anugerah perjalanan ini. Tidak mudah memang. Tapi saya belajar banyak hal. Perjalanan ini merupakan stepping stone untuk melakukan perjalanan lagi. Saya yakin Allah akan membawa saya ke tempat-tempat yang saya tidak duga, bahkan bisa ke Sabang pun rasanya seperti mimpi. Saya yakin pasti nanti suatu saat saya bisa balik ke Sabang lagi, entah kapan itu tapi saya yakin.

Terima kasih ya Allah atas perjalanan dan pelajaran berharga ini.

 

Ps * malam harinya saya langsung muntah-muntah, asam lambung saya naik. Pasti karena saya telat makan ditambah lagi saya makan nasi basi, hahaha…what an experience!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s