Dreams Come True – Sabang Part 2

Dalam hati, saya masih berharap tapi terlalu takut. Setelah suami pulang kerumah, kami packing-packing barang yang penting-penting saja karena suami saya punya ide kalau kami akan sewa kendaraan selama disana. Tidak jadi bawa kendaraan pribadi. Hal ini terpikir olehnya bahwa tak ada harapan kami dapat mengejar kapal lambat ke Sabang, so suami saya memberi ide untuk ikut kapal cepat yang lebih awal sampainya dan hanya membutuhkan waktu 45 menit. Ditambah lagi, kami baru dapat 1 penginapan. Karena niatnya ke Sabang 3 hari 2 malam, kami harus cari penginapan lain untuk bisa stay disana. Sebenarnya penginapan yang kami incar masih available tapi karena semua sedang serba tidak jelas, kami tidak bisa serta-merta langsung booking.

Malam sudah semakin larut setelah kami selesai packing barang. Saya menyetel alarm pukul 3 pagi. Dalam tidur saya berdoa. Berdoa bahwa apapun yang terjadi kami harus bekerja sama. “we’ll do this together” kata saya kepada suami. Suami saya mengiyakan dan mewanti-wanti dari awal bahwa Ghazi akan rewel dengan semua keriwehan ini. Saya mengangguk mengiyakan dan berharap semua sesuai dengan rencana yang sudah kami buat.

Pukul 3 pagi saya bangun. Saya dan suami hanya tidur 3 jam saja tapi ketika bangun tubuh dan pikiran saya full charge, mungkin karena sudah bersiap-siap dengan apapun keadaan yang terjadi. Setelah 30 menit bersiap-siap dan memasukan semua barang packingan ke mobil, kami berangkat. Ghazi terbangun sewaktu saya angkut ke mobil dan tidak tidur lagi hingga keesokan paginya.

Benar saja, sepagi buta itu, saya ingat betul bahwa sudah banyak sekali antrian kendaraan yang berderet-deret. Ya sepagi buta itu rela tidur di terminal untuk antrian kapal lambat ke Sabang. Oh ya, FYI untuk sistem kapal lambat memang harus antri untuk mendapat giliran masuk kapal. Saya juga kurang tau bagaimana hitungannya sampai berapa kg kendaraan hingga antrian di tutup. Karena kami tidak tau (dan sepertinya hanya petugas pelabuhan yang tau) jadi ya…memang mengandalkan faktor lucky. Siapa cepat dia dapat. Semakin cepat mengantri, semakin cepat dapat antrian kendaraan. Dan juga, kapal lambat ke Sabang hanya akan berlayar 2x setiap harinya pada jam 8 pagi dan jam 2 siang.

Ya, pada saat itu kami memang kurang beruntung. Seorang Ibu-ibu di pelabuhan bahkan mengatakan, kalau saja kami tiba di pelabuhan tepat jam 3 pagi, mungkin bisa ikut antrian kapal lambat jam 8 pagi. Ya sudahlah. Sekali lagi, apapun yang terjadi kami sudah siap, bahkan jika memang tidak bisa pergi ke Sabang, saya siap. Dari hal ini, saya juga belajar untuk ikhlas terhadap situasi dan kondisi apapun.

Screenshot_2017-07-31-10-55-47

Antrian panjang mengular. Liat deh motor-motor berjejeran sampai ke belakang

Pukul 8 pagi, kapal lambat yang pertama berangkat. Kami dapat jatah ikut kapal lambat jam 2 siang. Mungkin karena kurang istirahat, lebih tepatnya kurang tidur dan cuaca yang sangat terik waktu itu, kami mood-mood-an. Walau sudah di wanti-wanti suami bahwa Ghazi akan rewel, saya kadang masih sulit mengontrol emosi terhadap Ghazi. Dan benar saja, Ghazi rewel luar biasa. Ghazi gak cukup tidur, cuaca panas, gak nafsu makan dan kami semua belum mandi. Klop! Menunggu antrian masuk kapal ternyata menyebalkan.

20170722_121645

Akhirnya tertidur

Waktu berlalu hingga pukul 11 siang dan kapal kedua tiba. Tapi semua kendaraan belum diperboleh kan masuk kapal. Entah kenapa (ternyata ada kerusakan di kapal yang kami tau belakangan). Kabar baiknya Ghazi tertidur selama kami dan kendaraan lainnya nunggu antrian. Tapi tidak lama setelah itu ia terbangun lagi hingga tiba saat semua kendaraan boleh masuk kapal.

Jam 1 siang semua kendaraan boleh masuk kapal. Apakah setelah itu kapal langsung jalan? Tidak sodara-sodara! Kami harus menunggu lagi hingga 3 setengah jam. Kapal akhirnya berangkat pukul 15.30. Jadi kalau bisa ditotal kami sudah menunggu di pelabuhan selama 12 jam!

Screenshot_2017-07-31-10-57-00

Mobil akhirnya masuk kapal dan petugas yang berkaca mata hitam itu, namanya Alpen *berasa di Swiss ya 😀

Alhamdulillah…saya bersyukur banyak-banyak. Pertama kali naik kapal dan pertama kali ke sabang seumur hidup. Pengalaman pertama yang tidak menyenangkan memang, hehe…tapi yah, jalani saja. Saya melihat laut lepas terbentang. Deburan ombak yang pecah di hempas kapal. Ikan-ikan kecil berkelompok mencari makan. Sesekali ikan-ikan kecil itu makan bekas makanan manusia yang dibuang kelaut. Sungguh tak patut! Saya juga lihat bulu babi di bebatuan. Dan yang paling indah adalah, saya berada di lautan yang membelah antara Banda Aceh, Pulau Aceh dan Pulau Weh. Saya tidak bisa menjelaskan bagaimana bersyukurnya saya telah diberikan Allah pengalaman ini.

Memang benar ya, kalau bawa anak kecil dibawah umur 6 tahun harus expect nothing lah. Ghazi mulai rewel lagi, dia kepanasan, nangis terus minta jalan-jalan. Lah, gimana coba mau jalan-jalan di kapal yang sedang bergerak! Untuk berdiri saja susah, bahkan duduk tetap saja seperti merasakan gempa setiap saat. Waktu itu kami penuhi saja keinginan Ghazi. Saya mengajaknya ke sisi kanan kapal agar dia bisa melihat ikan-ikan kecil dan tiba-tiba saja dia minta makan. Syukurnya, kalau untuk urusan makanan, saya sudah jauh lebih prepare. Mudik ke Tangse setiap tahun sudah banyak mengajarkan saya untuk prepare makanan, minunan dan cemilan selama di perjalanan. Jadi ketika suami dan anak, kelaparan atau haus, tidak perlu beli lagi. Ghazi senang sekali melihat laut lepas.

Pukul 17.30 sore, kapal berbunyi 3 atau 4 kali, saya lupa, tanda bahwa kapal sudah akan merapat ke Pelabuhan Balohan Sabang. Setiap penumpang di persilahkan untuk naik ke kendaraan masing-masing. Kami pun juga bersiap-siap masuk ke mobil. Pintu kapal dibuka. Iring-iringan kendaraan keluar dari kapal. Termasuk mobil kami. Entah berapa kali kami mengucap syukur. Berkali-kali sampai-sampai saya sendiri masih tidak percaya bahwa saya sudah berada di Sabang. Saya sudah berada di pulau lain. Impian saya dikabulkan Allah dengan cara yang saya tidak duga, dengan cara ditimpa ketidakpastian keberangkatan berkali-kali, dengan cara dipupuskan harapan, waktu yang tidak memungkinkan, dll.

And…here i am!

Screenshot_2017-07-31-11-00-18

Bunga Oleander menghiasi sepanjang jalan menuju Nagoya Inn

Saya membuka kaca mobil dan saya hirup dalam-dalam udara sore hari itu. Senja perlahan-lahan mulai turun. Kami segera mencari  penginapan yang sudah di booking dari jauh-jauh hari. Oh ya, saya lupa bilang, akhirnya kami jadi booking penginapan yang sudah kami incar itu. Nanti akan saya ceritakan. Hari pertama tiba si Sabang, kami akan menginap 1 malam di Nagoya Inn.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s