Dreams Come True – Sabang Part 2

Dalam hati, saya masih berharap tapi terlalu takut. Setelah suami pulang kerumah, kami packing-packing barang yang penting-penting saja karena suami saya punya ide kalau kami akan sewa kendaraan selama disana. Tidak jadi bawa kendaraan pribadi. Hal ini terpikir olehnya bahwa tak ada harapan kami dapat mengejar kapal lambat ke Sabang, so suami saya memberi ide untuk ikut kapal cepat yang lebih awal sampainya dan hanya membutuhkan waktu 45 menit. Ditambah lagi, kami baru dapat 1 penginapan. Karena niatnya ke Sabang 3 hari 2 malam, kami harus cari penginapan lain untuk bisa stay disana. Sebenarnya penginapan yang kami incar masih available tapi karena semua sedang serba tidak jelas, kami tidak bisa serta-merta langsung booking.

Continue reading

Impian – Sabang Part 1

Screenshot_2017-07-31-10-46-01

Kapal lambat di Pelabuhan Ulee Lheu, pagi hari

Jadi, liburan selama 3 hari 2 malam ke Sabang kemarin itu masih belum saya publish semuanya. Baik cerita-cerita selama di perjalanan sebelum berangkat, setelah pulang, ataupun cerita-cerita dalam bentuk vlog. Karena…hingga detik ini pun saya masih belum percaya sudah menginjakkan kaki ke pulau lain melalui jalur air, naik kapal.

Pengalaman luar biasa yang pertama kali terjadi dalam hidup kita itu selalu mengesankan yaa. Dan, kenangan di dalamnya gak akan pernah dilupakan dengan mudahnya, meskipun perjalanan tersebut gak mulus-mulus amat, tapi ini juga yang dijadikan sebagai pelajaran hidup dari traveling. Sekarang saya paham bahwa traveling bukan hanya jalan-jalan tapi juga memperkaya wawasan dan belajar banyak hal. Ujung-ujungnya, kita jadi manusia yang akan lebih baik dari hari ke hari.

So, saya mau cerita sedikit sebelum “akhirnya” kami jadi juga ke Sabang. Kenapa “akhirnya”? karena keinginan kami (lebih tepatnya keinginan saya) ke Sabang itu udah lama sekali. Jauh sebelum saya menikah, ada sih kesempatan ke Sabang, tapi karena terbentur izin ortu yaa…gak berangkat. Setelah nikah, saya pikir izin ortu akan lebih mudah karena sudah ada yang mendampingi. Eh, ternayata saya salah. Saya dan suami, yang waktu itu ingin honeymoon ke Sabang tetap gak dapat izin ortu (izin ayah saya lebih tepatnya), karena cuaca yang tidak memungkinkan, angin kencang.

Continue reading