Sahabat vs Solitude

Screenshot_2017-02-24-11-11-34-1Saya gak bisa menggambarkan diri lebih banyak selain suka menyendiri. Solitude! Alone but not lonely. I love my self more than anyone, hahahaha…

Sampai di detik ini saya baru sadar bahwa ternyata saya gak punya sahabat karena sebenarnya saya hanya ingin berteman saja. Sahabat saya adalah saya sendiri. Sahabat saya adalah diary dengan setumpuk tulisan, sahabat saya adalah komputer plus koneksi internet, sahabat saya adalah pemikiran saya sendiri, dimana dengan kehadiran ‘mereka’ saya cukup terhibur dan menjadi diri sendiri. Sempat saya tanya sama diri sendiri, normal kah hidup seperti ini? Karena bukan hanya di lingkungan sosial dan pertemanan saja, di rumah pun, saya suka menyendiri dan betah lama-lama di kamar. Saya gak suka nonton sinetron dan gak begitu suka ngumpul bareng ibu-ibu komplek. Mungkin saya seperti ini karena pressure dari orang tua dan masih tinggal dengan mereka juga kali ya. I don’t know, I have no idea. Dan, di kantor, saya dibilang sombong hanya karena gak pernah ikutan ibu-ibu gosip di pojokan *gagalpaham!

Dulu sekali saya sempat punya sahabat waktu SMA. Saya menyebutnya sahabat karena saya menganggapnya seperti itu, yang pada akhirnya saya tau dia tidak menganggap saya sebagai sahabatnya. Dia yang buat saya hijrah menjadi lebih baik, kemana-mana selalu bareng sampai akhirnya orang yang saya sebut sahabat ini baru ngasih tau berita besar tentang pernikahannya semalam sebelum aqad nikah dilangsungkan. Pret!

Lambat laun saya sadar dia bukan orang yang tepat untuk saya beri perhatian lebih sebagai sahabat. Sekarang? Saya gak tau dia dimana. Terakhir hanya, dia punya anak perempuan dan tinggal bersama suaminya. Do I still need bestfriend? Gak tau ya. Saya masih betah sekali seperti ini. Gak di buntutin kemana-mana. Gak ditanyain macem-macem. Gak di fake kangenin.

Saya bisa bilang seperti ini karena saya gak menemukan lagi orang-orang yang tulus di dunia ini. Saya masih mendapati orang yang mengaku sahabat si A masih aja ngomongin sahabatnya di belakang. Saya masih mendapati orang-orang yang mengaku-ngaku sahabat karena dia lebih kaya harta, lebih banyak popularitas, karena ikut-ikutan, karena ingin dianggap eksis oleh suatu kelompok, dll, lalu untuk apa punya sahabat kalau kamu gak bisa tulus menerima kekurangan dan kelebihannya? Untuk apa punya sahabat kalau kamu masih gak tulus sayang sama sahabatmu?

Sejauh ini, saya belum mampu memahami orang lain dan orang lain tidak mampu memahami saya dengan baik. Saya masih lebih banyak membutuhkan me-time dan privacy. Dengan suami? Ya, kami punya ‘privasi’ time dan ‘menghabiskan waktu berdua saja’ time. Kami tidak melanggar hak perseorangan dan hak bersama. Mungkin saya gak punya sahabat karena saya juga belum mampu bersikap tulus sama mereka atau mereka yang udah kelewat batas ‘ganggu’ me-time dan comfort zone saya? Hahahaha…gak tau deh. Intinya saya masih betah seperti ini. Berteman secukupnya, sehari 3-4 kali. Oke sip!

Dulu saya sedih gak punya sahabat seperti orang lain. Sekarang saya malah bersyukur, bisa ambil hikmahnya. Kalau kalian punya sahabat yang udah ‘klik’, jangan lupa di jaga. Mempertahankan sahabat itu lebih berat dari pada dapet jodoh, hahaha…

Semoga saya bisa ketemu sama orang yang benar-benar tulus, sukur-sukur bisa jadi sahabat dunia akhirat 🙂

 

*Ps : Please…siapapun yang baca tulisan ini jangan baper, saya gak menyudutkan atau membicarakan satu orang atau siapapun. Ini curhatan hati saya setelah belasan tahun. This is pure from the bottom of my heart 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s