Do!

Terasa sekali setelah menikah semua berubah. Apa yang saya lihat, saya rasakan, bagaimana saya memandang konflik, motivasi dalam segala hal juga ikut berubah. Laki-laki yang menikahi saya dibesarkan oleh keluarga sederhana, begitu juga dengan saya. Sometimes kami berbeda pendapat dalam banyak hal, tapi ternyata banyak juga kesamaannya. Saya tidak memungkiri bahwa ada beberapa hal yang ingin saya ubah dari dirinya. Bukan karena saya lebih baik dari dirinya. Bukan. Sama sekali bukan seperti itu. Saya ingin anak belajar dari orangtuanya. Jika orangtuanya beda perkataan dengan sifat yang ditampilkan, anak akan bingung harus mencontoh seperti apa. Kok Umi dan Abi nya bilang tidak boleh membuang sampah sembarangan, tapi dia melihat kami membuang botol aqua di jalan!

picsart_01-27-01-11-35

once upon a time in airport

Menjadi contoh untuk anak saja butuh konsisten apalagi untuk pasangan. Terasa sekali untuk ‘mengubah’ pasangan butuh lebih dari sekedar effort. Panas-panas tai ayam mah gak mempan. Sabar aja, diam aja gak akan mengubah keadaan. Apalagi ngomel-ngomel gak jelas. Saya ngerasain banget sih, cara yang paling baik membuat si dia menjadi lebih baik adalah dengan memberi contoh yang baik juga. Kalau anak-anak kan cepet tuh pahamnya, kita bilangin apa aja dia dengerin, dia tiru, tapi kalau orang dewasa rada ribet. Kenapa ribet? Ya karena dia udah dewasa, udah punya pemikiran tersendiri. Tapi beneran deh. Saya juga liat beberapa perubahan positif dari suami yang gak saya sadari. Frankly, saya juga gitu sih.

 

Contoh kecilnya seperti ini, kalau kita lagi makan-makan diluar, saya selalu ucapin makasih sama kakak-kakak waitressnya, which is dulu di awal-awal menikah suami saya gak pernah ucapin hal yang serupa tapi sekarang selama setahunan ini dia ikut ucapin makasih juga seperti yang saya lakukan. Suami saya dan keluarganya are noodle lover, gara-gara suami sering ajak saya makan mie, saya juga jadi sukaaa banget makan mie. Dan, ini ni yang paling terasa..

Dulu ya, kita sering diem-dieman karena ngambek gak jelas. Kita bukan tipe pasangan yang cerewet satu sama lain, kalo ada beda pendapat atau salah, kita gak langsung frontal nunjukin kita sedang marah atau ingin diperhatikan. Kita justru diem-dieman. Sepertinya sih butuh waktu untuk sendiri dulu, menyalahi situasi dan mostly itu terjadi ketika kita sedang capek-capeknya ngurus anak. Saya menyalahkan dia, dia menyalahkan saya. Saya ingin dia minta maaf duluan, dia ingin saya meminta maaf duluan. Saya tetap urusin dia dan anak tapi sambil cuek-cuekan, hahahaha…

Terus saya pikir-pikir ya, kenapa juga harus memendam ego, kenapa juga harus ingin selalu dimengerti,  kenapa juga terus berlarut-larut dalam prasangka, kenapa juga harus selalu diem-dieman. Kita kan dua orang dewasa yang sudah menikah. Tujuan menikah itu apa sih selain komitmen untuk jadi lebih baik serta menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing . Akhirnya saya evaluasi diri, mungkin dia seperti itu karena saya juga seperti itu ke dia. Mungkin saya kurang perhatian. Mungkin dia lebih lelah dari saya. Dan semua mungkin-mungkin yang lain berseliweran di kepala. Akhirnya saya mengalah. Membuka pembicaraan dan mengevaluasi apa penyebab kita diem-dieman. Saya menerapkan hal ini berulang-ulang ketika kita udah mulai ada perbedaan pendapat. Saya belajar satu hal bahwa dalam hal seperti ini buang jauh-jauh deh ego! In my case, tidak membiarkan pasangan berlarut-larut dalam diamnya, berlarut-larut dalam pikiran di kepalanya. Pretend like nothing happen. Toh sebenarnya, kita diem-dieman seperti itu karena hal-hal yang kecil dan klise sekali. Kalau di diamkan dan dibiarkan berlarut-larut, masalah akan menjadi semakin membesar dan hati kita sudah mulai cuek dengan keadaan apapun. Dibilangin apapun juga gak akan mempan. Alhamdulillah, it works in any cases.

Saya juga melihat sendiri pada adik saya sekarang. Mulai dari pola tidurnya, cara dia  makan, cara dia belajar, musik kesukaan, pelajaran sekolah yang dia suka, cara dia memperlakukan anak saya, cara dia ngobrol dengan teman-temannya, dll she is exactly when I was student! Saya sama adik tu deket banget. Kita tidur sekamar dulu. Saya sering cerita-cerita ke dia, All good and bad habits of mine dia contoh dan dia rekam secara tidak sadar. Semua terekam di alam bawah sadarnya.

Nulis tentang ini jadi punya beban tersendiri untuk saya, menyadari bahwa masih banyak Pe-eR sikap dan perbuatan yang baik untuk kemaslahatan bersama, hehehe… So, kalo ada yang bilang istri itu gak memberi pengaruh apa-apa terhadap suami, itu salah besar! Kalau ada yang bertanya-tanya, kok suami saya gak pernah ngajakin ngaji, shalat bareng, tahajud bareng, makan bareng…hmm, mungkin bisa dimulai dari diri kita sendiri dulu kali ya. Niatkan untuk kebaikan bersama. I know its way too easy saying this, tapi saya yakin sekali usaha yang keras tidak akan mengkhianati hasil.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s