Live Healthier

megymDua hari yang lalu saya ikut suami nge-gym. Sebenarnya udah lama pingin exercise, bukan karena pingin kurus tapi ingin lebih sehat. Pasca melahirkan caesar 2 tahun lalu masih meninggalkan sakit di tulang punggung belakang. Well, saya gak tau exactly sakit tulang punggung belakang ini di sebabkan karena operasi caesar atau bukan. Biasanya muncul ketika saya sudah  mengerjakan pekerjaan rumah dalam sekali waktu. Jangan tanya gimana lelah dan sakitnya. Saya juga tidak memungkiri bahwa perut bagian depan ikut mengendur dan bagian yang paling gak enak itu adalah, baju-baju banyak yang sudah tidak muat karena mau tidak mau pinggul membesar seiring waktu. Suami saya pernah bilang seperti ini, umur 30-an kesehatan akan ikut menurun. Apa yang biasa kita konsumsi harus di jaga. Seiring waktu, stamina dan kebugaran akan loyo. Efeknya, kita jadi cepat letih, emosional dan ibadah pun sulit. Kita sering kan melihat ibu-ibu beranak lebih dari 2 kesulitan ketika ruku’ dan sujud dalam shalat. Kesulitan untuk menyeimbangkan bobot tubuhnya. Sedikit banyak saya sudah merasakan hal tersebut. Tahun 2017 ini saya berumur 28, 2 tahun lagi berumur 30. Jadi tidak ada alasan menunda untuk olahraga!

Suami saya tidak terlalu mewajibkan untuk olahraga. Well, mungkin sebenarnya dia membangun kesadaran saya dulu kali ya dan dilakukannya dengan pelan-pelan. Niat untuk olahraga sudah ada sejak selesai melahirkan Ghazi. Waktu Ghazi masih kecil dan belum bisa ditinggal, kendala utama itu adalah masalah waktu. Waktu saya hanya untuk mengurus Ghazi. Saya tidak punya waktu banyak untuk diri sendiri. Saya sempat makan dan mandi aja juga udah sukur banget. Sekarang Ghazi udah besar dan bisa di tinggal, kendalanya adalah harus ada yang temenin Ghazi ketika saya tinggal. Biasanya saya menitipkan ke adik saya.

Sabtu kemarin adalah yang pertama kali saya ikut suami nge-gym. Entah angin apa, tiba-tiba dia mengajak saya. Padahal saya gak punya persiapan apa-apa. Sepatu tidak ada, sport bra tidak punya, apalagi baju khusus untuk olahraga. Tapi melihat suami yang begitu semangat, saya ikut teracuni. Berbekal persiapan yang apa adanya, jadilah saya ikut. Oh FYI, suami saya sudah nge-gym dari awal masuk kuliah, kira-kira sudah 14 tahun lebih. Jadi, dada roti sobek dan badan kotak-kota sudah jadi pemandangan indah setiap hari, hehehe…He is my support system, the expert and personal trainer as well.

I was so excited on my first day. Hari pertama suami mengenalkan alat-alat yang digunakan, cara mengunakannya dan fungsinya masing-masing. Tubuh saya cukup bisa menerima latihan fisik tersebut, Alhamdulillah tidak ada nyeri-nyeri dan sakit kaki. Sayangnya kami berlatih hanya sejam. Hari kedua, saya diperkenalkan bagaimana pemanasan dan diperkenalkan dengan lebih banyak latihan. Basicly, yang harus dilakukan adalah pemanasan terlebih dahulu, cardio, pemanasan lagi kemudian masuk ke latihannya. Ada latihan untuk sayap, dada, perut, bokong, dll. Hari kedua kami latihan cukup intens, hampir 1 setengah jam. Bisa di tebak, saya ngos-ngosan, keringat bercucuran, pulang kerumah kaki saya mulai nyeri-nyeri, otot-otot perut seperti ‘bangun’ dari alamnya, hahaha…Kata suami, itu semua otot-otot yang tidak pernah di latih selama 27 tahun. Jleb!

Alhamdulillah, saya senang sekali. Saya berharap bisa latihan setiap hari, hanya tinggal menge-set waktu yang pas agar Ghazi bisa di titipkan sebentar. Maybe this is too erlier setting being healthy goals karena mengingat tahun ini kami berencana promil lagi *ehm* (aminkan..dong), saya juga ingin belajar mengendarai mobil dan nge-gym tiap hari. Tapi semoga ini menjadi doa dan pencapaian yaa.. This is my longterm 2017 resolution.

Oh ya, kalau ada yang nanya… gimana mau olahraga sist, anak gak ada yang jaga, gak ada orang yang bisa dititipin anak dan jauh dari orang tua, etc. Saya juga gak bisa kasih saran apa-apa. Saya yakin sekali banyak ibu-ibu diluar sana yang ingin hidup sehat dengan rutin olahraga tapi kendala terbesar adalah waktu dan anak. Jadi kalau ada yang bilang ibu-ibu itu malas olahraga, coba cek lagi deh, mereka punya struggle luar biasa, banyak yang harus di urus, bahkan punya waktu untuk diri sendiri pun susah. Saya pernah merasakannya. Saya pernah berada di titik tersebut! Mungkin saran yang paling baik adalah menunggu. Menunggu saat yang tepat ketika anak-anak sudah mandiri, sudah bisa ditinggal sebentar. Banyak juga kok ibu-ibu yang mulai berolahraga ketika anak-anak mereka sudah ‘paham’ bahwa ibunya juga butuh waktu untuk mengurus dirinya sendiri.

Rasanya saya ingin memeluk satu-satu ibu-ibu di seluruh dunia dan mengatakan you’re not alone, i feel you…i really feel you. You’re awsome no matter what!

Semoga kita bisa di beri kesempatan hidup lebih sehat dan lebih positif dari sebelumnya ya 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s