Drama MPASI

Postingan ini terinspirasi dari Kak Alo yang cerita tentang MPASI (Makanan Pendamping ASI) anaknya-Aura Suri, bisa dibaca disini. Saya mau cerita sedikit tentang MPASI-nya Ghazi. Sewaktu memutuskan untuk ikut anjuran WHO tentang pemberian makanan tambahan ASI untuk anak 6 bulan, saya lebih dulu tertarik untuk ikutin MPASI metode BLW. Pertama karena kelebihan BLW (Baby Led Weaning) itu sendiri, kedua karena kakak sepupu saya sudah sukses menerapkan BLW untuk anak keduanya- jadi kalau ada hal yang ingin ditanya-tanya lebih gampang, ketiga karena melihat kondisi Ghazi yang udah pinter mengontrol tangannya untuk masuk ke mulut dan genggamannya udah kuat untuk memegang sebuah benda. Mengikuti anjuran WHO yang memberikan asupan pertama berupa karbohidrat, saya justru memilih untuk memberikan Ghazi buah sebagai asupan awalnya. Buah-buahan ini dianjurkan bagi yang mengikuti MPASI aliran Food Combining.

Jadi sebenarnya saya ikut aliran MPASI yang mana sih? Hahaha…saya juga bingung jawabnya. Campur-campur lah. Tapi ya..rencana sudah ditetapkan, bahan-bahan yang dibeli juga sudah lengkap, nah..tinggal eksekusinya nih! Simak terus ya 🙂

***

Tepat Ghazi 6 Bulan

Tepat di usia Ghazi 6 bulan, saya gak langsung kasih makan karena waktu itu kakak ipar saya menikah dan karena terpikir riweuh menyiapkan ini-itu, akhirnya saya memilih untuk menunda hingga keesokan harinya. Saya memilih buah alpukat sebagai makanan pertamanya. Kenapa buah? Karena kecemasan saya jika memberi asupan karbohidrat akan berdampak pada pencernaan Ghazi yang belum sempurna. Saya takut Ghazi sembelit dan kasihan sekali jika hal itu harus terjadi pada bayi 6 bulan. Reaksi awal ketika Ghazi saya suapi puree alpukat; aneh, di lepeh, sendok jadi mainan dan yang pastinya gak habis dimakan. Padahal saya mencampur alpukat dengan ASI lho. Tetap aja rasanya aneh ya. Oh ya, saya juga merekam aksi pertama kali Ghazi makan. Lucu sekali.

Berbagai asupan buah saya berikan dan pelan-pelan saya kasih Ghazi karbohidrat. Dari berbagai asupan yang saya berikan, Ghazi suka dengan pisang, pepaya, pir dan..hm..lupa! hahaha..

Ghazi 7 Bulan

Semakin bertambah usianya, makannya juga makin pinter. Yang tadinya sehari 2x, sekarang jadi sehari 3x. Saya juga udah mulai mengkombinasikan berbagai macam asupan. Misal pisang-alpukat, pisang-beras merah, dll. Nah, karena usianya udah bertambah, saya mulai memberikan finger food dan cemilan sehat di sela-sela makan pagi, siang, sorenya. Finger food adalah makanan seukuran jari yang bisa digenggam yang membuat anak tidak tersedak dengan ukurannya. Begitu sih menurut definisi saya. Dan, mulai lah drama tersebut. Jeng..jeng..

Ghazi tersedak! Koordinasi antara tangan dan mulut baik tapi ya yang namanya anak kecil belum bisa mengontrol seberapa banyak makanan masuk ke mulut. Semua makanan yang dengan susah payah saya buat dan berikan keluar semua. Anaknya nangis, emaknya panik. Keesokan harinya saya liat sikon. Saya tetap kekeuh mau ngasih finger food dan terulang lagi hal yang sama. Untuk beberapa saat saya menunda dan mengubah mindset saya tentang BLW yang mengharuskan bayi untuk makan dengan tangannya sendiri tanpa di suapi.Oh ya, saya juga mencoba mengontak kakak sepupu yang menerapkan BLW tapi hingga detik ini tidak ada jawaban. Sepertinya sudah ganti nomor. Jadi yah..saya tunda dulu untuk BLW ini.

Ghazi umur 8 bulan akhir-menjelang 9 bulan

Drama berlanjut. Kali ini saya harus menerima kenyataan bahwa ghazi sakit untuk pertama kalinya. Gak tanggung-tanggung, hampir 2 minggu lamanya. Awalnya Ghazi sembelit, pup 4 hari sekali, keras dan..berdarah. Ghazi mulai demam, sesekali muntah dan mencret. Waktu itu saya dan suami harus bolak-balik ke dokter sampai 3 kali. Setelah di diagnoga ternyata Ghazi disentri. Kesalahan fatal yang saya lakukan dan menjadi pelajaran seumur hidup saya bahwa mengolah dan menyimpan makanan bayi harus di tempat yang steril dan selalu sediakan makanan bayi dalam keadaan fresh. Selama disentri- selain demam, pup Ghazi berwarna hijau-hitam cair bercampur darah. Setelah hampir 2 minggu, kami mengecek keadaan Ghazi dengan membawa sampel pup-nya ke laboratorium dan setelah di intervensi oleh dokter akhirnya Ghazi sembuh dan saya benar-benar mengubah pengolahan makanannya.

Ghazi umur 10 Bulan

Yeay…it’s time to holiday! Ghazi kami ajak ke Tangse, kampung kelahiran Abi-nya. Rempong banget saya waktu itu, harus bawa panci, tempat makan, wajan, kukusan, blender, sabun pencuci tempat makan khusus bayi, dll yang khusus punya Ghazi. Mengingat sakitnya dulu, bikin saya trauma dan tidak ingin terulang lagi, saya bawa perlengkapan makan sendiri D.E.M.I terjaga kebersihannya. Waktu itu Ghazi sudah bisa merangkak mundur dan gak mau lagi duduk di kursi makannya. Surprisingly, di Tangse tiba-tiba perkembangannya cepat sekali. Ghazi mulai merangkak lancar dan merambat- berjalan sambil berpegangan dengan kursi atau dinding. Ghazi juga saya tawari dengan biskuit khusus bayi tapi lagi-lagi ia belum mampu mengontrol masuknya makanan ke mulut. Saya menunda lagi deh BLW-nya.

Ghazi umur 1 Tahun-an

Kami kembali ke Tangse untuk lebaran disana. Tiba-tiba Ghazi jadi susah makan, entah karena saya memberinya nasi yang tidak dihaluskan, entah karena ia tidak suka lauknya, entah karena apa, saya pun tidak tau. Saya sempat stres. Tiba waktu kami pulang ke Banda Aceh, diperjalanan saya tetap menawarinya makanan dengan sesuap nasi yang dihaluskan. Waktu itu saya ingat betul sedang makan roma sari gandum coklat dan Ghazi ingin makan biskuit tersebut, terlihat dari beberapa kali ia memegang tangan saya dan menyuruhnya menyuapi biskuit roma itu. Saya takut Ghazi tersedak lagi tapi saya nekat tetap menyuapinya-semua coklat sudah dibuang, tingggal biskuitnya saja. Tiba-tiba Ghazi makan dengan santainya tanpa tersedak sama sekali. Saya dan suami bingung. Lho kok bisa ya? Kami kembali menyuapinya dan habis sekitar 5 potong biskuit. Mungkin karena lapar ia minta lagi dan lagi.

Sampai akhirnya kami membeli pisang yang dijual di sisi jalan, kami menyuapi ghazi pisang dan ia makan juga tanpa tersedak. Kami juga berencana makan mie favorit di seputaran Sigli and it’s like a magic, Ghazi makan lahap-hap-hap.

Ghazi umur 1 Tahunan lebih

Ya, Ghazi sudah mulai makan pisang sendiri, makan biskuit sendiri dan ia mau memegang makanannya sendiri, kecuali nasi yang masih saya suapi. Nasi ghazi masih saya masak terpisah dengan anggota keluarga yang lain dan nasinya masih lunak. Di umur ini Ghazi sudah mulai menunjukkan kesukaannya pada makanan, ia tipe anak yang tidak susah makan dan cenderung foody.

Ghazi menjelang umur 2 Tahun

Tekstur nasi sudah saya tingkatkan, nasi yang ia makan sama seperti nasi yang saya dan anggota keluarga yang lain makan. Tidak keras juga tidak terlalu lunak, ala nasi rice cooker lah. Ghazi sudah mulai menunjukkan ketertarikannya dengan makan sendiri Dia sudah bisa makan nasi dengan menyuapkan ke mulutnya sendiri. Ia bisa makan sendiri ini juga karena di sekolahnya yang memang menerapkan semua muridnya makan tidak disuapi. Biar mandiri tapi ya jangan ber ekspektasi lebih, pasti ada sisa nasi yang berjatuhan sana-sini. Ya namanya juga anak kecil makan, pasti berantakan, hehehe..

***

Perjalanan MPASI yang panjang mengajarkan saya banyak hal, bahwa proses itu gak instan. Malahan saya banyak dikejutkan dengan sesuatu yang tiba-tiba. Tiba-tiba, eh kok udah bisa aja ya. Saat ini saya udah ngerti bener deh, Ghazi kesukaannya apa, kalau ghazi gak mau makan kenapa. Ada banyak lesson learn yang saya pelajari. Saya akan bahas di postingan selanjutnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s