Emosi

InsideOutQuotes_1Sudah nonton animasi pixar terbaru, Inside Out? Kalau belum, saya rekomendasikan untuk di tonton. Ini salah satu animasi yang saya suka selain Wall-E. Ceritanya tentang keseharian seorang ‘makhluk’ bernama Joy dalam diri seorang anak perempuan, Riley. Seperti namanya, Joy mengatur semua kesenangan dan kebahagiaan Riley. Joy tidak sendiri, dia bersama teman-temannya, Fear, Disgust, Angry dan Sadness. Masing-masing teman Joy mengatur ketakutan, rasa jijik, amarah, kesedihan, persis seperti nama mereka. Hari-hari Riley diatur oleh ‘makhluk’ tersebut hingga Riley bahagia dan melupakan kesedihan. Yup, mereka tidak membiarkan kesedihan ikut campur dalam menentukan mood Riley. Setiap hal yang Riley senangi akan tersimpan dalam memori inti jangka panjang dan membentuk satu ‘pulau’ tentang rasa tersebut. Riley berhasil membentuk rasa persahabatan, kekonyolan, kejujuran pulau hockey dan keluarga. Hingga suatu ketika semuanya berubah ketika Riley dan keluarganya pindah ke San Fransisco. Riley tidak begitu bahagia ketika mendapati rumah, kamar tidur, teman-teman dan sekolah tidak seperti harapannya. Hingga satu persatu ‘pulau’ yang dibentuk dari memori inti jangka panjangnya rubuh. Joy dan teman-teman tidak berdiam diri, segala usaha ia lakukan untuk membuat Riley kembali tersenyum dan bahagia, namun usaha mereka gagal karena Joy sudah dihapus dari memori Riley. Riley melupakan bagaimana cara tersenyum, bagaimana indahnya sebuah keluarga, persahabatan dan kekonyolan. Riley melupakan arti bahagia. Lalu, sia-siakah usaha Joy? Apakah Riley tidak lagi bahagia selamanya?

Nah, kira-kira seperti itu sepenggal cerita Inside Out. Saya melihat animasi ini seperti kehidupan kita sehari-hari. Ada hal-hal yang mengatur keseimbangan antara bahagia juga kesedihan, ada yang mengatur amarah, ada yang mengatur rasa jijik dan ketakutan. Semua yang mengatur adalah otak kita. Lalu, apakah hidup kita selalu dan semua tentang bahagia seperti yang diinginkan Joy untuk Riley? Hmm, tidak juga. Apakah hanya selalu kebahagiaan yang membentuk semua ‘pulau’  untuk memori inti jangka panjang? Hmm, saya rasa tidak. Bahagia, amarah, rasa jijik, takut bahkan kesedihan akan berada pada memori jangka panjang kita. Tidak selamanya kebahagiaan membawa kebahagiaan. Kadang kita perlu rasa sedih untuk belajar mengungkapkan kekesalah, kekecewaan, bahkan meluapkan amarah. Rasa sedih tidak selalu tentang kehilangan, kadang rasa sedih hanyalah cara agar kita kembali kuat. Begitu juga dengan rasa takut. Takut dibutuhkan agar kita tau bagaimana cara berhati-hati. Berhati-hati dalam keputusan yang kita buat atau berhati-hati dalam berurusan dengan orang lain. Memori inti jangka panjang tersusun atas pembelajaran kita tentang rasa itu sendiri. Jika suatu saat kita dihadapkan dengan masalah yang sama atau yang baru, kita punya cadangan memori yang membantu mengatur hari-hari menjadi lebih berwarna. Saya juga yakin setiap Kebahagiaan, Kesedihan, Rasa Jijik, Takut dan Amarah akan membentuk satu ‘pulau’ tersendiri dalam diri kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s