Parenting ; What They Learn

parentingDr. Arun Gandhi, cucu mendiang Mahatma Gandhi bercerita, pada masa kecil ia pernah berbohong kepada ayahnya. Saat itu ia terlambat menjemput ayahnya dengan alasan mobilnya belum selesai diperbaiki, padahal sesungguhnya mobil telah selesai diperbaiki hanya saja ia terlalu asyik menonton bioskop sehingga lupa akan janjinya. Tanpa sepengetahuannya, sang ayah sudah menelpon bengkel lebih dulu sehingga sang ayah tahu ia berbohong.

Lalu wajah ayahnya tertunduk sedih; sambil menatap Arun sang ayah berkata: “Arun, sepertinya ada sesuatu yang salah dengan ayah dalam mendidik dan membesarkan kamu, sehingga kamu tidak punya keberanian untuk berbicara jujur kepada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, biarlah ayah pulang dengan berjalan kaki. Sambil merenungkan dimana letak kesalahannya,

Dr. Arun berkata:
“Sungguh saya begitu menyesali perbuatan saya tersebut. Sejak saat itu seumur hidup, saya selalu berkata jujur pada siapapun. Seandainya saja saat itu ayah menghukum saya, mungkin saya akan menderita atas hukuman itu, dan mungkin hanya sedikit saja menyadari kesalahan saya.Tapi dengan tindakan mengevaluasi diri yang dilakukan ayah, meski tanpa kekerasan, justru memiliki kekuatan luar biasa untuk mengubah diri saya sepenuhnya.

Dari cerita diatas saya belajar, sebagai orang tua ada saat dimana kita harus mengevaluasi diri, tidak hanya menuntut tapi juga memberikan contoh untuk anak. Karena, siapa lagi yang anak tiru selain orang tuanya. Tidak selamanya saya berhasil menerapkan pola asuh yang baik pada anak, padahal saya sudah banyak baca buku, artikel, diskusi, dll tapi tetap saja saya clueless ketika anak bersikap tidak seperti yang saya harapkan. Misalnya saja ketika dia marah, bagaimana dia mengungkapkan amarahnya, pastilah ia melihat orang tuanya. Ada saat kita mengevaluasi diri dan tidak menyalahkannya. Evaluasi diri juga termasuk memaafkan diri sendiri dan tidak terus-terusan menyalahkan diri maupun pasangan.

Setelah itu baru pelan-pelan belajar. Belajar bagaimana menyelesaikan semua hal dengan kepala dingin. Saya meyakini bahwa orang tua TEMPATNYA SALAH. Karena memang tidak ada sekolah khusus untuk orang tua. Zaman terus berubah, mendidik anak juga harus sesuai zamannya. Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Ketika kita menjadi seorang anak, kita belajar cara menghadapi orang tua kita, ketika kita menjadi seorang ibu/ayah kita belajar cara menghadapi anak dan mertua, ketika kita menjadi nenek/kakek, kita belajar cara menghadapi anak dan cucu kita, begitu seterusnya hingga kita mati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s