Job Seeking ; Penantian

Orang tua saya hanya tamatan SMA. Tidak pernah mengenyam bangku perguruan tinggi. Apa yang paling diharapkan orangtua yang hanya tamatan SMA dengan menyekolahkan anaknya hingga tingkat universitas selain kesuksesan. Kesuksesan yang diharapkan jauh melampaui mereka. Kesuksesan apa yang diharapkan orangtua selain kemandirian dan bisa mencukupi kebutuhan untuk diri sendiri. Maka, untuk saya mudah saja merangkum kesuksesan itu dengan satu kata, pekerjaan.

Ayah saya pensiunan PNS, mamak masih bekerja sebagai PNS. Jika anaknya bukan PNS maka setidaknya anaknya harus mapan dan punya penghasilan sendiri. Saya tau orangtua tidak menuntut saya harus menjadi ini-itu. Tapi ini kesadaran saya sendiri. Saya ingin “membayar” apa yang telah mereka lakukan pada saya, meski apa yang saya “bayar” tidak akan pernah cukup. Mereka juga tidak menuntut saya sebagai anak pertama-perempuan pula- harus menjadi contoh untuk adik-adik. Tapi sekali lagi, ini kesadaran saya sendiri untuk memberi contoh bagi mereka, bahwa kakaknya bisa, adik-adiknya juga pasti bisa.

Saya ingin mendobrak tradisi bahwa perempuan setelah menikah dan punya anak tidak bisa berbuat apa-apa selain mengurus rumah tangga dan keluarga. Saya ingin membantah bahwa perempuan menikah hanya bisa menunggu nafkah suami tanpa bisa menghasilkan uang sendiri. Saya ingin membuktikan bahwa perempuan yang sudah menikah dan punya anak juga bisa mandiri, mereka juga bisa punya karir cemerlang, bukan hanya menjudge diri bahwa kodrat mereka sepanjang masa hanya dirumah, berkutat dengan rutinitas rumah dan anak. We can do something, women! Selama masih diberi kekuatan sama Allah, masih ada umur, masih ada kesehatan, come on! Jadilah bermanfaat bagi orang lain dengan cara apa saja.

Tidak mudah memang, mengurus rumah, ngurus anak sembari bekerja untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Tapi saya yakin, saya yakin 100% Allah akan memberi kelapangan, Allah akan mengatur waktu dan hari asalkan kita tidak putus asa.

Saya pribadi suka yang bekerja, berinovasi dan suka belajar hal baru. Saya cenderung memilih bekerja kantoran untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Ingat ya, ini pilihan saya. Jika ada yang lebih suka bekerja dirumah untuk mendapat penghasilan tambahan, silahkan saja. Kenyamanan bergantung pada setiap individu. Baik bekerja dirumah maupun diluar rumah tetap ada kelebihan dan kekurangan. Saya memilih bekerja di kantor juga punya alasan. Ada alasan yang sangat pribadi dan tidak boleh saya ceritakan. Alasan lainnya karena memang saya suka. Jangan tanya kenapa. Saya tipikal bekerja dalam ruangan, punya satu meja kerja dan komputer. Fokus. Kalau kerja ya kerja, main sama anak ya main sama anak. Untuk saya rumah berarti tempat pulang. Tidak ada istilah bekerja lagi dirumah setelah berkumpul dengan keluarga. Saya sulit membagi hati antara kelurga dan kerjaan. Untuk itu, saya lebih memilih fokus mengerjakan suatu hal di tempat yang mengkhususkan untuk kerja dan fokus melakukan family things di rumah. Ingat ya. Ini masalah pilihan. Lagi-lagi, tulisan saya ini tidak ada tendensi saya menyuruh perempuan harus bekerja kantoran. Bekerja kantoran adalah pilihan pribadi saya. Mungkin saya terinspirasi oleh mamak yang pekerja kantoran. Lebih dari itu, saya memang suka berada di lingkungan kantor.

Kalau dilihat pengalaman bekerja dulu selama kuliah, saya lebih banyak ngajar. Saya sudah pernah mengajar anak TK hingga mahasiswa. Materi yang saya ajarpun juga beragam, saya pernah ngajar ngaji, ngajar bahasa inggris, bahasa aceh, matematika SD-SMP-SMA, ngajar buat objek 3D dan GIS (Geographic Information System). Setelah itu saya menikah dan punya anak. Tidak mengerjakan apa-apa selain mengurus rumah tangga dan anak. Setahun saya berjualan online. Jualan aksesoris wanita, gelang, kalung, headpiece dan bros. Selama masa itu saya tetap mencari lowongan pekerjaan, mengikuti job fair, bertanya pada teman-teman, kerabat apakah ada lowongan pekerjaan yang cocok untuk saya. Saya mencoba memasukkan lamaran ke berpuluh perusahaan. Beneran! Berpulah-puluh perusahaan. Tak terhitung. BANK A, B, C sampai ada BANK D yang saya masukkan lamaran 2 kali. Perusahaan asuransi, retail properti, content creator, jurnalis, sekretaris, interior designer, dll. Ikut CPNS pun sudah 2 kali, waktu itu sedang hamil muda. Ada sih beberapa perusahaan yang memanggil untuk ikut psikotes, wawancara bahkan sudah diterima kerja setelah selesai wawancara tapi ada saja yang tidak sreg. Penempatan di luar daerah lah, mengharuskan yang masih single, mencari nasabah untuk bergabung di perusahaannya sampai karantina sebulan yang mengharuskan pisah dengan anak dan suami. Fiuhh..Saya ingin bekerja, tapi keluarga, suami dan anak adalah prioritas utama. Saya gak nyerah. Saya menolak untuk menyerah. Lebih tepatnya keras kepala. Jika saja hati dan kepala ini mau mengalah sedikit, saya sudah menyerah dari dulu. Berbekal bahwa Allah Maha mengabulkan semua keinginan hambanya, saya pantang mundur.

Hingga tiba saat penantian panjang saya terbayar. Salah satu dinas di provinsi Aceh membutuhkan staf ahli untuk data dan informasi. Lebih tepatnya mereka butuh seseorang yang punya kreatifitas untuk mengelola dan mengolah data-data baku menjadi tampilan sederhana yang mudah dipahami oleh orang awam. Saya mengajukan CV. Empat bulan setelahnya saya dipanggil untuk mulai kerja. Beberapa minggu kerja saya mendapat SK. Alhamdulillah. Saya bersyukur pada Allah. Allah menjawab doa-doa panjang saya. For almost 3 years do nothing dan tiba-tiba Allah memberinya begitu saja. Ya, begitu saja. Dan tahukah? Semua Allah berikan pada saat yang paling tepat dalam hidup saya. Ghazi sudah melewati masa sapih dan sudah sekolah PAUD. Ghazi sudah lebih nyenyak tidur juga setelah masa sapih. Pekerjaan saya memang mengharuskan masuk pagi pukul 8 hingga 5 sore tapi saya masih satu kota dengan keluarga, jam kantor yang  memberi kebebasan kepada saya seorang ibu untuk mengurus anak, membolehkan masuk lebih telat dan pulang lebih awal untuk mengurus rumah tangga, suami dan anak. Coba saja saya diterima kerja disaat masa-masa sulit tersebut? Saya pasti berubah menjadi orang tidak waras, hehe…Saya mulai percaya bahwa “akan indah pada saatnya” itu nyata. Jika belum “indah” maka belum saatnya.

Apakah ini pekerjaan impian saya? Hm, not really. Setidaknya saya menyukainya, saya tertantang untuk belajar lagi dan mengasah kreatifitas. Saya masih ingin melanjutkan S2 dan bekerja sesuai dengan basic ilmu yang saya pelajari. Itulah passion dan pekerjaan impian saya. Kalo kata Pak Ridwan Kamil, pekerjaan paling menyenangkan di dunia adalah hobi yang dibayar. Semoga saya bisa ya, aminn 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Job Seeking ; Penantian

  1. Halo, Kak Ayi!
    Nggak nyangka deh, akhirnya Kak Ayi buka lapak lagi. Ehehe.
    Muti juga udah tutup yang di blogspot kak, pindah ke tumblr, lah di tumblr ga betah.
    Akhirnya pindah ke wordpress, karena suka tampilannya, aplikasi di HP nya pun ringan.
    *apa sih kok curhat*
    Pas lagi blogwalking kesini, langsung tertarik sama postingan ini. Paling “sensitif” menurut muti karena muti belom seberuntung kak ayi (btw, selamat ya kak ayi, sudah bekerja :D). Semoga aja penantian dan apa yg muti ikhtiarin berbalas seperti cerita kak ayi. Keep writing kak ya ^^

    • mutiiii….welcome to lapak baru, rumah selamanya dan semoga selamanya disini gak pindah2 lagi, hehehe
      kayaknya ini topik yang selalu ditanya waktu lulus kan? kita happy lulus kuliah padahal this is the real journey, this is the real battle on the jungle *halah! terus usaha mut, jgn nyerah, jgn pernah tinggal doa, karena kita gak akan tau kapan Allah ijabah doa2 kita. dan indah pada waktunya itu emang beneran ada. Serius!
      btw, ka ai main2 ke rumah muti yaaa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s