Weaning and Bed Time Story ; With Love

Hi…saya mau cerita tentang ghazi. Juni 2016 ini umurnya genap 2 tahun. Saya dan suami udah sepakat menyapih ghazi sebelum umurnya 2 tahun. Kenapa? Banyak pertimbangan yang kami ambil sebelum akhirnya benar-benar membulatkan tekad, niat dan azam untuk ‘melepaskan’ ketergantungannya pada ASI. Jauh sebelum kami berencana menyapih ghazi, saya ingin ghazi tetap nyusu sampai umurnya 2 tahun. Tidak kurang dan tidak lebih. Namun, sebelum mencapai 2 tahun, saya melihat ghazi lebih sering ngempeng di puting dari pada nyusu. Aktifitas ngempeng ia lakukan karena ia merasa nyaman, merasa disayangi dan dilindungi dari balik pelukan saya. Well, di satu sisi itu bagus tapi di sisi lain menimbulkan ketidakmandirian jangka panjang untuknya. Misal, ditinggal sebentar ke kamar mandi, nangis. Saya nyuci piring, ghazi minta gendong dan sebentar-bentar minta ngempeng lagi. Parahnya, hal ini berlangsung hingga dini hari ketika ia terbangun dari tidurnya untuk minum ASI tapi diselangi ngempeng yang lebih lama dari minum ASI itu sendiri. Hal ini membuat ghazi gak nyenyak tidur karena dia gak mau dilepasin ngempengnya. Saya pun ikut kelelahan, kurang tidur dan pagi hari tidak fresh karena badan selalu pegal-pegal. Dampaknya cukup signifikan pada saya dan ghazi. Tumbuh kembang ghazi terhambat, karena salah satu faktor tumbuh kembang anak adalah cukup tidur- saya pun stres dan merasa tidak bahagia. Apa-apa salah, sedikit-sedikit menangis, dan saya tidak punya lagi waktu me-time. Bisa tidur 1 jam penuh tanpa gangguan, sempat mandi dan makan mahal sekali harganya. Ini beneran lho, ibu yang stres dan tidak bahagia SANGAT berdampak pada anak. Rasanya hampir setiap hari saya mengeluhkan hal ini pada suami. Sampai suatu ketika saya sudah tidak tahan lagi. Kami butuh bantuan dokter!

Dokter menjelaskan tentang tumbuh kembang anak bukan hanya dipengaruhi oleh asupan harian melainkan juga waktu istirahatnya yang cukup. Tidur selama 8 jam di malam hari adalah wajib, dan tidur cukup ini yang selalu ghazi lewati. Bahkan tidak hanya malam hari, siang pun ghazi tidak nyenyak tidur. Ia selalu terjaga. Seperti gelisah selalu. Selama ini kami menidurkannya di ayun. Mungkin salah satu faktor ghazi tidak nyenyak tidurnya karena ia terjaga masih dalam keadaan berayun-ayun, bisa juga karena ia haus, kedinginan, kepanasan, mimpi buruk atau ia merasa seolah-olah tidur sendiri dan berpikir saya tidak lagi disampingnya. Entahlah. Kami harus mencari tau kenapa ia selalu terjaga malam!

Saya berpikir, mungkin sudah saatnya saya menyapihnya. Saya berkonsultasi dengan teman-teman yang sudah berpengalaman menyapih anaknya, namun tetap tidak membuat ghazi sedih, merasa ditolak  dan saya tidak mau menyapihnya dengan cara yang ekstrim. Saya tidak ingin menyakiti dan membohonginya dengan mengoleskan yang pahit-pahit di puting atau membalut puting seolah-olah terluka. Big no no!

Dalam hal ini, suami, kakek-nenek dan orang se-isi rumah juga ikut berperan. Mereka harus tau dan kooperatif demi kesuksesan menyapih. So, yang saya lakukan adalah, memisahkan tidur dari ghazi pada malam harinya. Ghazi tidur dengan Abinya. Sudah bisa dipastikan, ghazi nangis menjerit-jerit. Minta ASI. Hati saya pilu, tapi saya harus kuat, niat dan azzam juga harus kuat. Waktu itu ghazi masih tidur di ayun. Saya juga menjatahkan ASI, ada waktu yang saya skip, namun tetap pelaaaan sekali. Tidak ekstrim. Perlu diketahui, payudara juga perlu dikosongkan, jika pengosongan payudara tidak sempurna, payudara akan bengkak dan bisa membuat demam. Saya udah pengalaman 2 kali demam karena hal ini.

Malam kedua dan ketiga masih berlanjut dengan jerit-jerit nangis minta ASI. Malam ketiga sudah agak mendingan, nangis sebentar lalu tidur lagi. ASI masih tetap saya jatahkan. Setiap minggu terus berkurang, dari yang sehari 4 sampai 5 kali, pelan-pelan terus saya kurangi menjadi sehari sekali, sampai tidak minum ASI sama sekali. Namun satu hal yang perlu diingat, jangan kurangi jatah untuk memeluknya, mencium, mengajak berbicara, main bersama, bercanda ketika waktu mandinya, menenangkannya ketika ia menangis, dll. Ajaibnya, ghazi paham apa yang saya lakukan. Ia paham bahwa ia telah disapih. Dulu, saya pikir ini anak akan sulit sekali di sapih, tapi semua itu hanyalah mindset kita moms. Anak-anak hanya perlu dibiasakan. Anak akan menangis itu wajar. Karena ia seperti dipisahkan dari sesuatu yang selalu melekat dengannya. Lama kelamaan ia akan biasa. Nah, durasi waktu anak dibiasakan akan sesuatu itu akan berbeda tiap anak. Masa sapih ghazi lebih kurang 1 bulan, terhitung dari awal maret hingga april. Kuncinya, penuhin stok sabar sebanyak-banyaknya, konsisten dan jalani!

Awal-awal menyapih ghazi ada perasaan bersalah, hati selalu bertanya, apakah ini sudah benar, apa saya ibu yang baik dengan tega membiarkan anak nangis jerit-jerit, menyapih anak sesulit inikah? tapi saya juga ingin tidur nyenyak, saya ingin me-time, saya ingin “tubuh” saya lagi, egoiskah jika berpikir seperti ini? Trust me, it happen to me a lots. I kept asking those things, all mommies out there is always asking those too. You are not alone! Saya kadang menangis diam-diam atau kadang berusaha menjadi sok kuat, semuanya demi anak. Tapi semua pasti berlalu. Tetap sharing dengan suami dan teman-teman yang sudah lebih dulu menyapih anak.

Oya, tentang tidurnya ghazi, sejak selesai masa sapih kami mencoba menidurkannya di ranjang. Suasana dibuat seperti malam, lampu redup, dan tidak boleh ada aktifitas main lagi. Ghazi dipijit-pijit ringan, tangan, kaki dan kepala di elus-elus, setting jam selalu pada waktu yang sama setiap malam dan ghazi saya baringkan dipelukan. Malam pertama belum berhasil. Malam kedua tidak jauh berbeda. Malam ketiga dia sudah mulai terbiasa. Dan, coba tebak…malam-malam selanjutnya ghazi bahkan tertidur sendiri di ranjang! Jadi selama masa sapih tidur pagi di skip, diganti dengan tidur siang. Ghazi tidur 2x sehari, siang dan malam. Kami sengaja skip tidur pagi agar siangnya ghazi bisa istirahat setelah lelah bermain. It worked!

Dampak positif lainnya, saya bangun pagi dalam keadaan sehat fisik, mental dan BAHAGIA! Saya lebih bersemangat dan yang paling penting saya jadi kurang mengeluh dan lebih banyak bersyukur. Ghazi tidur nyenyak sepanjang malam, begitupun kami orang tuanya. Well, sesekali ghazi masih terbangun malam, mostly karena haus dan hidungnya tersumbat ingus. Ghazi tidak hanya tertidur di ranjang ketika malam saja tapi juga di siang harinya. Ghazi selalu tertidur dalam pelukan saya, mungkin inilah alasan paling utama ia selalu terbangun ketika masih tidur di ayunan, ia merasa sendiri dan tidak berdekatan dengan saya. Sapih selesai. Tidur beres. Yes!

So, moms…hanya kita yang benar-benar tau kapan saat paling tepat menyapih anak, bagaimana tumbuh kembangnya, apa yang ia butuhkan dan apa yang mengganggu kenyamanannya. Orang lain-termasuk orang-orang terdekat saya,-selalu punya alasan untuk menggagalkan kesiapan mental kita dalam menerapkan pola asuh pada anak. Tetap lakukan yang terbaik menurut versi kita masing-masing 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s