Job Seeking ; Thought

Saya udah nikah. Punya 1 anak. Anak lelaki. Rencana nambah? Iya. Terus apa hubungannya judul diatas dengan menikah dan punya anak? Jelas ada dong. Semuanya related karena saya seorang Ibu. Bagi lelaki yang tugasnya mencari nafkah, tentu tidak menjadi persoalan karena mencari nafkah adalah kewajibannya. Tapi bagi perempuan yang sudah menikah dan punya anak, lain cerita. Mencari nafkah bukan suatu kewajiban. Mubah hukumnya dengan beberapa tinjauan. Mengantongi izin dari suami, bukan pekerjaan yang mudharat, tidak melupakan kodratnya sebagai istri dan seorang Ibu. Tapi untuk saya, memiliki pekerjaan *sebenarnya saya lebih suka menyebutnya memiliki penghasilan tambahan diluar nafkah wajib dari suami* bagi seorang yang telah menjadi istri dan punya anak adalah HARUS!

jobKenapa harus? Sudah punya anak, ya harusnya dirumah aja. Ngurus keluarga, anak dan suami. Terus nanti kalau kerja yang jagain anak siapa? ART gitu? Emang tega? Buat sebagian orang, saya yakin deh pasti mikir gitu. Banyak yang bilang karir seorang perempuan akan ‘berhenti’ seketika dia telah memiliki anak karena kodratnya perempuan adalah dirumah dan menjadi ibu rumah tangga. Sekarang, yuk kita thinking out the box.

Saya punya alasan yang sangat kuat kenapa memilih untuk punya penghasilan tambahan. Karena kita tidak tahu, siapa yang lebih dulu dipanggil Allah untuk menghadapNya. Apakah suami atau istri. Kalaulah saya yang dipanggil duluan, suami masih punya penghasilan untuk membiayai anak-anak hingga mereka cukup kuat untuk mandiri dan punya penghasilan sendiri. Nah, kalau ternyata suami saya yang dipanggil duluan menghadap Allah gimana? Apakah saya mampu bertahan menghidupi anak-anak tanpa penghasilan sendiri? Loh kan ada tabungan? Mau sampai kapan bergantung pada tabungan? Suatu saat akan habis. Uang pensiunan? Apakah menjamin tercukupi semuanya? Kan, uang pensiunan tidak 100% seperti nominal gaji suami dulu. Asuransi? Sama aja mah kayak tabungan. Malah lebih ribet untuk klaim ini itu. So, masih mau mikir untuk terus bertahan, tok dari penghasilan suami? Kalau kita turunan Ratu Elizabeth bisa mikir gitu, harta tidak habis dimakan tujuh turunan, hehe…

Sebenarnya ini bukan tentang harta, kekayaan, penghasilan, gaji dan seputaran itu saja. Lebih dari itu. Perempuan harus bisa mandiri. Ini bukan soal emansipasi ya. Ini tentang bagaimana perempuan harus bisa bertahan demi kelangsungan hidup anak-anaknya. Lagipula, siapa sih yang tidak mau bebas finansial di hari tua? Bisa menikmati tanpa susah-susah lagi mikir bagaimana jika sakit di hari tua, bagaimana menghabiskan waktu bersama cucu-cucu, jika nanti ada hal-hal yang tak terduga bisa terjadi kapanpun. Iya. Hal-hal yang tak terduga bisa dalam bentuk apa saja. Uang, harta kan tidak dibawa mati. Loh siapa bilang? Sedekahin dong. Itu kan investasi akhirat. Uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Loh siapa bilang? Naik haji, butuh uang kan? Investasi akhirat (lagi). Jadi bahagia kan? Dan lain-lain yang gak usah lah saya sebutin kebahagiaan dunia itu apa-apa aja. Uang bukan segala-galanya tapi segala-galanya butuh uang. Sama seperti judul bukunya Aa’ Gym ; Saya Tidak Ingin Kaya, Tapi Harus Kaya. Dalam buku ini mengajarkan agar seorang muslim harus kaya ilmu, hati, harta agar bermanfaat bagi orang lain.

Banyak cara agar perempuan bisa punya penghasilan sendiri tapi tetap bisa ngurus keluarga. Mereka bisa usaha online, punya butik, menitipkan kue/makanan homemade ke warung-warung, usaha kos-kosan putri, owner sebuah bimbingan belajar yang hanya ngontrol sesekali, dll. Usaha dalam bentuk apapun agar punya “pegangan”. Hikmahnya banyak. Salah satunya membuat ia bisa mandiri, konsisten menjalani usaha/bisnisnya dan tidak selalu bergantung pada suami. Bukan berarti setelah punya penghasilan sendiri perempuan merasa lebih hebat dan bisa segalanya ya. Walaupun perempuan bisa lebih hebat dari laki-laki, Allah tidak mau kita seperti itu, Allah mau kita tetap tawadhu terhadap suami sebagai pelindung, pengayom dan pembimbing.

Hikmah yang lain adalah salah satu wujud kasih sayang dan penyejahtera di hari tua Ibu-Ayah kita nanti. Mereka susah payah menyekolahkan hingga setingkat perguruan, memenuhi segala keperluan kita, bahkan mereka menunda keinginan sendiri untuk melengkapi keperluan pribadi. Semua mereka upayakan agar kita bisa sukses. Mereka tidak meminta hasil jerih payah kita, uang dan harta. Tidak. Mereka tidak meminta itu semua. Kitalah yang harus menyejahterakan mereka, meski tidak akan bisa kita membalas sepeserpun dari jerih payah mereka. Siapa lagi kalo bukan kita, anak-anaknya.

Inilah yang saya sebut bermanfaat bagi orang lain. Perempuan harus bisa bermanfaat bagi orang banyak. Ini kan juga amal jariyah, investasi akhirat (lagi dan lagi). Jadi kesimpulannya, untuk saya pribadi, seorang perempuan, seorang istri, seorang ibu, HARUS punya penghasilan sendiri. HARUS bermanfaat, bukan hanya untuk keluarganya tapi juga untuk orang lain. Dan, (masih pendapat pribadi) menjadi ibu rumah tangga itu bukan cita-cita tapi WAJIB bagi seorang istri, bagi seorang ibu. Cita-cita, keinginan, impian, cari yang lain. Upayakan! Setelah mendapat izin suami, silahkan berusaha mencari penghasilan tambahan tanpa menzalimi keluarga dan tentunya bermanfaat bagi dirinya juga orang banyak. Jika ada yang tidak setuju dengan pendapat saya, boleh-boleh saja kok. Saya tidak akan memaksakan pendapat saya pada orang lain, begitu pula sebaliknya, orang lain juga tidak perlu memaksakan pendapatnya pada saya, hehehe…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s