9/9/2013

us

us

Setiap orang punya kisah masing-masing bagaimana ia dipertemukan dengan satu orang dan orang lainnya. Setiap orang juga tidak akan selamanya bersama satu atau dua orang dalam kurun waktu tertentu. Hidup adalah jalan untuk bertemu dan berpisah. Abadi adalah akhirat, dunia yang masih belum membersamai untuk saat ini. Aku, kamu dan orang-orang dalam hidup kita saat ini sudah diatur pertemuannya, perpisahannya. Tak ada yang pernah menerka A akan bertemu dengan B. A bertemu C. Karena sesuatu dan lain hal dan keadaan yang tak pernah mereka duga, mereka dipertemukan dalam satu dimensi waktu. Jadilah mereka berteman. Saling mencandai dan bercerita. Karena sesuatu dan lain hal pulalah aku bertemu dengannya. Tanpa terduga. Jika saja aku tidak mengambil salah satu mata kuliah pilihan pada saat itu mungkin ceritanya akan berbeda. Katakanlah waktu berlanjut hingga sampai masa dewasa untuk menentukan pilihan hidup. Sebuah keputusan yang tidak main-main. Keputusan yang membersamai keputusan yang lain. Keputusan atas istikharah panjang juga pembicaraan dari hati ke hati antar keluarga. Hingga pada hari yang telah ditetapkan tiba untuk mengumpulkan dua anak manusia  dalam kehidupan dunia akhirat. Seluruh keluarga besar sepakat menandai bulatan merah pada agenda, bahwa 9 September 2013 kami akan menikah. Hanya aku yang tau kenapa aku memilihnya. Hanya ia yang tau kenapa ia memilihku. Inilah sebenarnya usaha, doa dan tawakkal kami pada Dia Rabb Yang Maha Tinggi. Sang Maha Pengabul doa. Ia lah rumahku sesungguhnya. Tempat aku pulang. Tempat aku berteduh selamanya.

Ini Jawabannya!

way to be honest

way to be honest

Banyak yang nanya kenapa aku gak nulis lagi, kenapa aku harus pindah ke ‘rumah’ yang lain, kenapa harus jadi anonim, dan banyak kenapa lainnya. Aku cuma diam sambil senyum-senyum yang hanya aku tau apa maknanya. Keputusanku udah bulat. Udah matang untuk ‘move on‘ dari rumah lama. Mungkin tidak perlu semua orang butuh tau dan mengerti kondisiku saat aku mengambil keputusan itu. Saat aku memutuskan untuk tidak lagi tinggal dirumah lama, saat itu kondisiku lagi labil atau jika boleh dibilang sedikit rapuh. Continue reading